MEMAKNAI HIDUP DENGAN BERSYUKUR



Ketimpangan hidup sering disalah tafsirkan, seperti ; Ada yang sudah berkerja keras tetapi hasilnya kurang, ada yang kerjanya nyantai tapi hasilnya melimpah. Apa yang diharapkan sering tidak terwujud dalam kenyataan dan yang menjadi cita-cita, tidak terwujud sesuai dengan harapan. Ya Allah... ini tidak adil, keluhnya.

Ajaran Islam memberikan resep hidup yang sangat ampuh untuk menghadapi beragam ketimpangan hidup tersebut hanya dengan resep sederhana yaitu ‘Bersyukur’. Orang yang senantiasa bersyukur, tidak akan pernah takabur dengan kelebihan nikmat pemberian Allah SWT. Pun sebaliknya tidak pernah mengeluh ketika diterpa dengan segala kekurangan.

Ketika dia kaya atau miskin semuanya diterimanya dengan penuh syukur. Sebab, kalau tidak bersyukur, maka dia akan mudah menjadi manusia yang sombong, angkuh, dan ujub. Dengan bersyukur, akan menjaga dan membentengi diri dari keangkuhan, kesombongan, dan ketakaburan.

Jika tidak memiliki rasa bersyukur, maka ketika diuji dengan segala macam persoalan yang datang tiada henti-hentinya, maka yang dirasakan hanya kesal, kecewa, putus asa bahkan yang imannya rapuh, bisa-bisa bunuh diri. “Orang yang tidak bersyukur menerima nasibnya cenderung melukai diri sendiri yang membahayakan keselamatannya”.

Hidup itu sebenarnya sangat mudah, hanya saja kita yang membuatnya jadi susah, Kuncinya adalah bersyukurlah saat senang, saat lapang, saat kaya dan bersyukur pula pada saat kekurangan, kesulitan maupun cobaan lainnya. Sebab syukur itu menjadi benteng dalam menghadapi semua kondisi kehidupan. Semoga kita semua menjadi manusia yang pandai bersyukur atas kelebihan maupun kekurangan dari pemberian Allah SWT. Aamiin. (AB)

Dikutib dari: Ahmad Thib Raya - Dou Mbojo
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Share this article :

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA