PAWAI RIMPU & PENTAS SENI BUDAYA BIMA DOMPU SEGERA DI JAKARTA


Rimpu merupakan bagian dari budaya unik dengan memakai kain (tenunan khas) Tembe Nggoli, kain terserbut dilingkarkan pada kepala hingga yang terlihat hanya wajah saja. Terlihat memang agak rumit memakainya, tapi sesungguhnya lebih simpel dan cepat setelah terbiasa menggunakannya. Budaya rimpu mirip dengan cara berbusana perempuan Arab yang lebih dikenal dengan busana Cadar.

Budaya rimpu mulai dikenal sejak masuknya Islam di Bima - Dompu yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama Islam dari tanah Gowa Makassar. Meskipun di masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu. Jadi rimpu, merupakan salah satu hasil karya budaya perempuan Bima - Dompu yang menjunjung tinggi ajaran Islam bahwa kaum perempuan yang sudah aqil balik diharuskan menutup aurat dihadapan yang bukan muhrimnya, maka jadilah rimpu sebagai busana penutup aurat.

Ada dua jenis Rimpu yang biasanya dikenakan: Pertama adalah 'Rimpu Mpida', yang dikenakan oleh perempuan yang belum menikah, maka rimpu mpida harus menutup semua bagian wajahnya, terkecuali mata, jadi yang terlihat hanya matanya saja. Kedua 'Rimpu Ncolo' adalah rimpu yang dikenakan perempuan yang sudah menikah, diperbolehkan semua bagian wajahnya terbuka.

Makna yang terkandung pada Budaya Rimpu, menandakan kemajuan pola fikir masyarakat Bima - Dompu dalam menjaga harga diri, mereka sadar bahwa perempuan adalah makhluk mulia yang diciptakan oleh Allah SWT yang memiliki keistimewaan yang luar biasa dibandingkan dengan kaum pria. Namun, di balik keistimewaan tersebut ternyata banyak perintah dan larangan Allah, salah satunya adalah menjaga dan menutup aurat.

Mengapa harus menutup aurat?
Pertanyaan ini sangat penting namun jawabannya justru jauh lebih penting. Satu pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang cukup panjang. Menutup aurat adalah perintah Allah SWT yang wajib dilaksanakan oleh perempuan yang telah mengikrarkan keimanannya bahwa dengan menutup aurat, sesungguhnya banyak hikmah yang akan dipetik, namun jika sengaja memamerkan aurat, maka setiap waktu, setiap saat, kejahatan selalu mengintai dan tepat pada saat ada kesempatan Ia akan langsung menerkam, maka siap-siaplah menanggung sendiri segala akibatnya. Banyak contoh lain yang nyata dan menjadi fakta dan memang, penyesalan itu selalu datang belakangan, padahal, Allah SWT dengan tegas mengingatkan, 'Jaga dan tutup Auratmu karena disitulah letak kehormatanmu'.

Seiring dengan kemajuan peradaban dunia yang kian moderen, dengan segala kemudahan dan kecepatan mengakses informasi, dampak dan berpengaruh terhadap generasi muda mulai terlihat. Betapa tidak , dengan perkembangan yang kian pesat tersebut, perilaku manusia secara nyata telah beralih ke fenomena baru, salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi ditangan-tangan kreatif yang mulai menanggalkan akar budayanya sendiri ke budaya barat. Lihat saja, seorang wanita lugu dari desa yang mencoba meraih mimpi diajang pesona bintang, disaksikan jutaan mata dilayar kaca, tiba-tiba dalam sekejab dandanannya berubah total dirias sesuai tuntutan kerlap-kerlipnya panggung bintang. Apakah fenomena ini menjadi bagian dari lunturnya kecintaan generasi muda yang menganggap akar budayanya sudah kuno? Padahal, Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mempertahankan budayanya.

Untuk melestarikan suatu budaya bukan pekerjaan yang mudah, Pemerintah, pejabat terkait atau pemerhati budaya harus senergi dan secara terus menerus memperkenalkan akar budaya pada generasi muda, misalnya dengan menyelenggarakan pawai budaya atau pentas seni budaya. Hal itulah yang menjadi perhatian khusus Forum Komunikasi Kasabua Ade (FOKKA). Forum Silaturahim bagi perantauan asal Bima-Dompu sejabodetabek ini, untuk kesekian kalinya akan menyelenggarakan 'Pawai Rimpu dan Pentas Seni Budaya Bima-Dompu' bersekala besar atau skala nasional.

Salah satu pengurus FOKKA, Jamaluddin Ikraman yang ditunjuk mensosialisasikan acara tersebut mengatakan, Acara kali ini cukup besar dan bersekala nasional serta melibatkan masyarakat asal Bima dan Dompu, untuk itu, harus terbentuk kepanitiaan yang handal dengan melibatkan tokoh-tokoh terpengaruh asal Bima-Dompu atau masyarakat yang peduli akan budaya Bima-Dompu, akan mengadakan mbolo na'e (rapat akbar) yang isyaallah akan diadakan, Minggu, 25 Pebruari 2018, Pukul 10.00 wib sampai selesai di Rumah Tokoh Masyarakat asal Bima Bp. H. Ola Abdollah Jl. Cempaka Putih Barat 26 No.4 (Stadion Bola Rawasari Jakarta Pusat), jelasnya.

Lebih lanjut Jamal mengatakan, Rencana perlehatan akbar tersebut akan diselenggarakan pada July 2018, Pawai Rimpu diadakan di Bundaran Hotel Indonesia (HI) sampai Monas, sedangkan Pentas Seni Budaya di adakan di Taman Ismail Marzuki (TIM). Semoga semuanya berjalan sesuai rencana dan kita akan memastikannya pada saat rapat panitia, jadi tunggu saja informasi selanjutnya, imbuh Jamal.

Jamal berharap, agar pertemuan tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar hingga terbentuk panitia sesuai yang diharapkan. Jamal merasa optimis, karena antusias masyarakat Bima-Dompu di obrolan grup Whatsaap (WA) cukup mengembirakan, membuat semangat kami pun bertambah berlipat-lipat, "Itulah yang meyakini kami bahwa perlehatan akbar dengan mengusung Parade Rimpu dan Pentas Seni Budaya Bima Dompu ini akan terselengarakan dengan sukses" pungkasnya. (AB) 

Penulis: abunawarbima@gmail.com

Share this article :

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA