SEKOLAH RENTAN ANCAMAN RADIKALISME



Maarif Institute for Culture and Humanity menyatakan bahwa organisasi siswa intra sekolah (OSIS) atau kegiatan ekstrakurikuler ternyata belum mampu membendung arus radikalisasi di sekolah.

Dari riset yang dilakukan lembaga itu pada Oktober hingga Desember 2017 dan melibatkan 40 sekolah di lima provinsi, di­simpulkan bahwa sekolah masih lemah dalam melindungi siswa. “Kondisi itu disebabkan kurang pemahaman dan kesadaran sekolah tentang peta gerakan radikalisme,” kata Direktur Maarif Institute, Abdullah Darraz, di Jakarta, kemarin (Jumat, 26/1).

“Paham radikal disusupkan di sela kegiatan belajar-mengajar serta kegiatan kelas tambahan di luar jam sekolah. Guru ini bisa jadi dua, bisa menjadi aktor radikalisasi itu sendiri. Sebaliknya, dia bisa meng-counter radikalisme. Itu mengapa pemahaman mereka yang tepat akan hal itu sangat penting,” ujar Darraz.

Dari penelitian tersebut juga diketahui bahwa 40 sekolah yang diriset belum memiliki satu pun kebijakan yang spesifik untuk memproteksi sekolah dari penetrasi paham radikal.

Darraz mengatakan perlu selanjutnya dilakukan evaluasi terhadap regulasi-regulasi tingkat daerah untuk mengatasi­nya, terutama karena kebijakan sekolah sangat dipengaruhi kebijakan pemerintah daerah sejak berlakunya otonomi.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Penelitian Kemendikbud, Totok Suprayitno, mengatakan sekolah perlu didorong untuk terus berupaya meningkatkan budaya berpikir kritis. Tidak hanya pada siswa, tetapi juga pada guru serta setiap orang yang bersentuhan dengan siswa di lingkungan sekolah.

“Hal ini diharapkan mampu menjadi bekal untuk menangkal paham radikal. Siswa harus dibiasakan pada segala bentuk perbedaan. Mereka harus dibiasakan untuk berdebat. Guru di sini juga harus mau berpikiran terbuka dan tidak bersikap diktator,” ujar Totok.

Totok mengatakan, saat ini, Kemendikbud dengan tim ahli pendidikan tengah menggodok teknis penerapan pendidikan karakter agar implementasinya semakin maksimal di sekolah, termasuk dalam hal penilaian.

Nantinya, nilai rapor tidak hanya akan berisi nilai akademis, tetapi diisi unsur penilaian lain seperti nilai empati dan toleransi. (Pro/X-11) - MI.



Share this article :

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA