FA AINA TADZHABUN?


Menarik untuk disimak sebuah pertanyaan Tuhan di dalam ayat Alquran, Fa Aina Tadzhabun? (Maka kalian mau ke mana?) (QS al-Takwir/81:26). Ayat itu tampil berdiri sendiri mengingatkan visi dan misi kehidupan kita, untuk apa kita lahir? Ke mana kita akan pergi? Apa tujuan hidup kita? Bekal apa yang harus disiapkan di dalam menjalani perjalanan hidup ini? Berapa lama kita akan hidup? Apa tanggung jawab di balik kehidupan ini? Terlalu banyak muatan makna pertanyaan Tuhan di dalam ayat pendek tersebut. Ayat tersebut menyentak kita untuk mempertanyakan dan menyadarkan kita di dalam menjalani sisa-sisa perjalanan hidup kita.

Jika ada pertanyaan tanpa jawaban di dalam Alquran, itu menunjukkan adanya jawaban penting yang harus ditanggapi. Kehidupan yang tersisa ini seharusnya kita jalani dengan visi dan tujuan yang jelas supaya kita tidak termasuk orang yang amat merugi di kemudian hari. Alangkah ruginya kalau kehidupan kita ini sama saja dengan kehidupan kita dengan masa lalu.

Ayat di atas seolah memberikan energi batin bagi kita untuk berubah (shifting). Bagaimana agar kualitas hidup kita hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari-hari masa depan kita lebih baik daripada hari ini. Hadis Nabi mengingatkan alangkah ruginya seseorang jika hidupnya hari ini sama saja dengan hari kemarin. Lebih rugi lagi jika hidupnya hari ini lebih buruk daripada hari kemarin. Tidak ada kata terlambat untuk mengevaluasi diri kita untuk merencanakan kualitas hidup lebih baik daripada hari kemarin, hari ini, dan hari-hari berikutnya.

Pertanyaan menarik itu bukan hanya penting dihayati secara individu, melainkan juga untuk keluarga, masyarakat, dan kita semua sebagai warga bangsa/negara karena ayat tersebut menggunakan lafaz jamak (tadzhabun). Jadi yang perlu mendapatkan direction kehidupan bukan hanya diri sendiri, melainkan juga keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Yang akan celaka bila tidak menjalani tata kelola kehidupan ini bukan hanya orang perorangan, melainkan juga anggota masyarakat dan bangsa atau negara.

Sejalan dengan ayat di atas, ada ayat lain mengingatkan, Likulli ummatin ajal, fa idza jaa ajaluhum la yasta’khiruna sa’atan wa la yastaqdimun (Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajal mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya (QS al-A’raf/7:34). Orang, keluarga, masyarakat, negara, rezim atau orde, yang tidak memiliki visi, misi, dan tujuan hidup yang jelas dikhawatirkan ajalnya akan tiba lebih awal. Khusus untuk ajal suatu masyarakat, Ibnu Khaldun pernah mengingatkan kepada kita terhadap empat generasi yang akan menentukan cepat atau lambatnya ajal masyarakat itu tiba, yaitu, pertama generasi perintis, kedua generasi pembangun, ketiga generasi penikmat, dan keempat generasi penghancur.

Setelah itu, muncul lagi generasi baru yang akan merintis, membangun, menikmati, dan selanjutnya kembali menghancurkan. Demikianlah seterusnya, sejarah selalu berulang. Alquran menayangkan beberapa contoh yang menunjukkan betapa riskannya ajal sebuah generasi. Terkadang individu yang memiliki perencanaan yang matang di dalam menjalani kehidupannya lebih panjang ajalnya daripada ajal masyarakatnya. Di antara generasi bangsa Indonesia banyak sekali yang pernah merasakan beberapa pergantian generasi (orde). Ada yang pernah menyaksikan tibanya ajal penjajahan Jepang, Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru. Terkadang umur individu kita lebih panjang daripada umur masyarakat atau rezim kita.

Sebaliknya, ada juga suatu komunitas lebih panjang usia kemasyarakatannya bila dibandingkan dengan usia individunya. Boleh jadi ada sebuah individu berkali-kali mati sebagai masyarakat atau rezim tetapi tetap tegar sebagai individu. Idealnya usia individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa/negara/rezim sama-sama awet dalam kehidupan yang ideal, sebagaimana ditegaskan di dalam cita-cita bangsa yang tertuang di dalam Preambul UUD 1945.

Dalam tahun atau bulan-bulan politik seperti tahun mendatang seharusnya kita semua wawas diri sambil memohon petunjuk Tuhan Yang Mahakuasa agar kita semua, baik sebagai individu, keluarga, masyarakat, maupun sebagai warga bangsa/negara, tetap berada di dalam lindungan Tuhan Yang Mahakuasa. Semoga kita semua tetap berada dalam suasana stabil, makmur, tenang, dan bahagia.

Penulis: Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta.

Foto: Ilustrasi Abunawar Bima
Sumber: MI.

Share this article :

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA