GERAKAN NASIONAL PEMBERANTASAN BUTA MEDSOS


Indonesia berhasil menuntaskan penduduk buta aksara sampai 97,93%, atau kini tinggal 3,4 juta orang. "Saya bangga tingkat buta aksara di Indonesia mengalami penurunan drastis. Ini prestasi luar biasa," ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy pada puncak peringatan Hari Aksara Internasional 2017 di GOR Ewangga, Kuningan, Jawa Barat, baru-baru ini (Media Indonesia, 9/9/2017)

Menurut data resmi Kemendikbud, pada 2006 masih ada 12,8 juta (8,08%) penduduk yang menderita buta huruf. Data tahun lalu menunjukkan penduduk yang masih buta huruf tinggal 3,4 juta (2,07%). Akan tetapi, yang dihitung hanya penduduk berusia 15-59 tahun. Entah mengapa, puluhan juta penduduk berusia 8-14 tahun dan di atas 59 tahun tidak dihitung (didata). Bila semua penduduk berumur di atas 7 tahun disensus, pastilah penderita buta aksara jauh lebih besar daripada data resmi Kemendikbud tersebut.

Mendikbud juga menegaskan buta huruf bukan soal baca-tulis belaka. Justru yang paling mendasar ialah apa yang didapatkan dari kemampuan baca-tulis. Kemampuan membaca saja tak cukup pada era digital ini. Warga masyarakat dituntut semakin pandai memanfaatkan baca-tulis dengan bijak. Bisa membaca, kata Muhadjir, belum tentu belajar. "Jangan kita sampai terjebak pada laporan statistik. Yang tidak melek huruf sisanya hanya 2,07%. Namun, sebetulnya mungkin yang tidak belajar, bahkan kembali ke buta huruf, jumlahnya jauh lebih banyak," tambah Mendikbud.

Kondisi itu terlihat dari penggunaan media sosial (medsos) untuk tujuan negatif, seperti menyebarkan informasi palsu atau bohong (hoaks). Artinya, pengguna medsos yang mampu membaca belum dapat belajar dan memanfaatkan teknologi digital tersebut dengan baik dan benar. Dalam sambutannya Mendikbud memang sama sekali tak menggunakan istilah buta medsos. Akan tetapi, dia menyatakan banyak penduduk sudah melek huruf dan aktif memakai medsos, tetapi mereka belum/tidak mampu belajar dengan memanfaatkan teknologi digital itu. Itu berarti, penduduk yang dimaksud Mendikbud masih menderita buta medsos.

Secara teknis mereka tampak sangat terampil bermedsos ria, tetapi secara substantif atau mutu isi medsos mereka masih buta sama sekali. Mereka tampak terampil memakai telepon seluler pintar, tetapi mereka sesungguhnya tidak pintar menggunakannya untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Jangankan mengetahui hukum yang mengaturnya (Undang-Undang Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik/UU ITE), tata krama berkomunikasi melalui medsos pun mereka tak mengetahui dan menyadarinya.

Memang banyak juga pengguna medsos yang berpura-pura buta medsos dan buta hukum medsos seperti politikus senior dan mantan menteri terkenal itu. Ini soal lain tentu. Kini pemerintah dan segenap warga masyarakat semestinya menyadari sesungguhnya masalah buta medsos jauh lebih serius daripada buta aksara. Efeknya pun jauh lebih berbahaya daripada masalah buta huruf. Tak terhitung berapa banyak korban penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) canggih di Indonesia gara-gara buta medsos, baik yang terkena vonis hakim di pengadilan karena melanggar UU ITE, korban main hakim sendiri, maupun yang menderita secara psikologis (emosional), sosial, ekonomis, dan politis, terutama korban informasi buruk di medsos.

Kini kita dapat memprakirakan betapa besarnya banjir bandang penyalahgunaan medsos dalam pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019, baik oleh mereka yang buta medsos maupun mereka yang telah melek medsos. Dapat diprakirakan pula jumlah korbannya.

Penulis: S Sahala Tua Saragih
Dosen Prodi Jurnalistik Fikom Universitas Padjadjaran.
Sumber: MI.


Share this article :

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA