KRITERIA PEMIMPIN YANG NGGUSU WARU



NGGUSU WARU, Dalam Bahasa Bima NTB, adalah 8 (delapan) sifat/karakteristik yang menyatu sedemikian kuatnya dalam diri seseorang yang menjadi pemimpin. Kedelapan sifat/karakteristik itu sekaligus bisa menjadi rujukan untuk memilih seseorang Pemimpin yang bersahaja dan mumpuni bagi seluruh lapisan Masyarakat. Adapun ke 8 (delapan) Sifat tersebut sebagai berikut:

1. MAJA LABO DAHU 

Artinya orang yang merasa malu dan takut kepada Allah SWT. Takwa dalam artian hati-hati dan selektif dalam hidupnya. Ia tidak mau bersikap sembarangan. Karena ia yakin bahwa meskipun mata kepalanya tidak dapat melihat Allah, tapi mata hatinya yakin bahwa Allah SWT pasti memperhatikan dia, sebagaimana dirumuskan dalam pengertian ihsan, yaitu: “hendaklah engkau menyembah Allah, seakan-akan kau meliha-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah pasti melihat engkau”. Jadi, kriteria yang satu ini mendasari sekaligus menjiwai ketujuh sifat yang lainnya.

2. BAE ADE
Artinya, orang yang memiliki kapasitas intelektual serta kepekaan jiwa (spiritual) yang mendalam sehingga dengan mudah menanggapi berbagai permasalahan yang terjadi, secara rasional dan intuitif serta tidak mudah bersikap emosional dalam arti negatif. Karena itu, ia selalu mampu mengontrol dirinya sedemikian rupa sehingga tidak mudah terbawa oleh pemikiran yang bersifat polaritas: prokontra, kiri-kanan, hitam-putih, dan sejenisnya. 

Dia mampu mengajukan pikiran yang partisipatif, akomodatif, dan adaptif, mampu memodernisasi, menjembatani, mencari titik temu, dari dua/lebih hal yang ekstrim sedemikian rupa sehingga ia mampu berada “ditengah-tengah”, menjadi wasit yang adil dan santun. Dia tidak mudah terpancing untuk melakukan kekerasan.

3. MBANI LABI DISA
Artinya orang yang memiliki sifat berani melakukan perubahan (reformasi) kearah yang lebih positif-konstruktif karena diyakini kebenarannya. Karena itu, ia berani mempertanggungjawabkan segala perbuatanya sebagai aparatur negara dihadapan UUD 45 dan Panca Sila serta dihadapan Allah SWT berdasarkan agama yang dianutnya. Dalam al-quran telah dijelaskan yang artinya “Sesungguhnya aku yakin bahwa kelak aku akan menemui hisab oleh dan terhadap diriku sendiri(QS. Al Haqqah, 69:20). Karena itu tidak ada seorangpun yang mampu “bersandiwara” semuanya akan dipertanggungjawabkan dunia ahirat. 

Perhatikan pula QS. Yasin, 36:65, yang artinya “Pada hari itu kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberikan kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka lakukan”. Jadi, Mbani Labo Disa berarti, Berani berbuat, Berani bertanggung jawab.

4. LEMBO ADE
Artinya orang yang lapang dada (berjiwa demokratis dan akomodatif) yang mampu menjembatani hal-hal yang dapat menimbulkan polaritas (pro-kontra). Dengan kesabarannya ia tidak mudah memihak kepada hal-hal yang nampaknya secara lahiriyah, terlihat menguntungkan, akan tetapi justru membahayakan. Dengan demikian ia, mampu mengatasi berbagai krisis yang terjadi. Karena ia memiliki tekad/semangat yang membaja dalam meraih tujuan yang lebih luhur atau membahagiakan. 

Semangat dengan selalu mengatakan” Kalembo Ade, Yakinlah bahwa Allah SWT akan menolong siapa saja, selama orang tersebut memiliki sikap seperti itu. Perhatikan QS. Al-Baqarah, 2: 45 dan 153 yang artinya “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan Sabar dan Sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang Khusyu”. Sabar itu selalu pahit pada awalnya, tetapi akan berbuah manis pada akhirnya. “Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut di utamakan”(QS. Ali Imran, 3:186).

5. NGGAHI RAWI PAHU
Artinya, orang jujur yang sekata dengan perbuatannya (tidak hipokrit), karena apa yang telah dikatakan atau yang telah disepakati bersama akan dilaksanakan secara arif, sehingga menghasilkan suatu yang sangat positif dan konstruktif. Hal itu dimungkinkan karena ia memiliki kemampuan terutama dalam hal penggunaan kata/kalimat yang secara psikologis dan moral dapat mengantarkan dirinya dan orang lain untuk membuat komitmen atau ucapan selalu singkrong dengan perbuatan.
Ungkapan tersebut sesungguhnya merupakan manifestasi dari orang yang kuat imannya kepada adanya Allah SWT sebagai pencipta alam semesta sekaligus sebagai pelindung dan pemeliharanya. Keimanan seperti itu, harus diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan perbuatan. Ketiga-tiganya harus berjalan secara simultan dan seimbang. Dalam Surat QS. As-Saf, 61: 1-2, yang artinya “Hai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan (sesuatu) apa yang kamu tidak perbuat. Amat besar kebencian di hadirat Allah SWT (apabila) kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.

6. TAHO HIDI
Artinya, orang yang memiliki integritas kepribadian yang kokoh-kuat dan berwibawa. Dedikasinya tinggi serta loyal akan perjuangan, menegakkan keadilan dan kebenaran. Penampakan fisik kejasmaniannya yang tampan, cantik, atau gagah bukan menjadi ukuran akan tetapi yang sangat penting pada aspek integritas kepribadian yang sidik (jujur), tidak bohong, amanah (dapat dipercaya), tidak khianat, tabaliq (transparan dan komunikatif) tidak sembunyi-sembunyi, serta fatonah (cerdas dan kreatif), tidak bohong sehingga menampakkan pribadi yang seutuhnya: proporsional dan harmonis. Harmonis antara fisik-kejasmanian dan psikhis-kerohanian, secara sempurna. Atau meminjam istilah dalam tasawuf, ia menjadi “insan kamil”, yaitu manusia yang selalu dalam “proses menjadi” sempurna. Jadi “Taho Hidi" Artinya orang yang seimbang antara struktur tubuhnya yang gagah (pria) atau cantik (wanita) dan berakhlak baik/akhlakul karimah. 

7. WARA DI WOHA DOU
Artinya, orang yang selalu merasa terpanggil untuk mengambil tanggung jawab, ditengah-tengah masyarakat, baik ditingkat Lokal, Nasional, maupun Internasional. Dia selalu dekat di hati rakyat, ia selalu dicintai rakyatnya. Dengan demikian, ia selalu unggul dalam setiap kegiatan yang bersifat kompetitif dan yang melibatkan orang banyak (publik). 

Betapa tidak, karena ia selalu hadir di tengah-tengah masyarakat, baik dikala suka dan duka, dengan tidak membeda-bedakan status sosial; kaya-miskin, Ia berkeyakinan bahwa kesusahan, penderitaan orang lain, adalah peluang baginya untuk beribadah kepada Allah SWT, dengan cara memudahkan segala urusannya sehingga orang itu merasa berbahagia berada di sampingnya, sama seperti Ia merasa bahagia melalukan ibadah kepada Allah SWT.

8. NTAU RO WARA
Artinya, orang yang memiliki kekayaan lahiriyah dan rokhaniah, sehingga tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang bersifat materi. Betapapun ia sangat membutuhkannya. Atau menurut ungkapan yang populer dewasa ini yaitu, Ia tidak mau melakukan Korupsi sekalipun ia sangat membutuhkan banyak uang untuk memenuhi berbagai keperluan. 

Korupsi atau memakan uang yang bukan haknya adalah hal sangat bertentangan dengan hati nuraninya, Jadi, dia sudah merasa kaya walau sesungguhnya Ia miskin, Ia mampu memilah dan memilih bahkan menilai bahwa sebuah benda yang berharga itu, tidak ubahnya sebutir batu/kerikil yang berserakan disepanjang jalan. Ia sama sekali tidak terusik untuk memilikinya melebihi porsi yang diperlukannya. Lagipula, sesuai dengan haknya tidak lebih dari itu.

Tulisan ini disadur oleh Bahtiar Malingi (Dosen IAIN Mataram NTB - Mahasiswa S2 UNY Yogyakarta) dari sebuah buku karangan sesepuh Guru Melo (Abdul Malik Mahmud Hasan) dengan judul “Ngusu Waru” Sebuah Kriteria Pemimpin Menurut Budaya Lokal Mbojo (Dompu-Bima). Semoga bermanfaat, Lebih dan kurangnya kami mohon maaf.

Share this article :

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA