MEROSOTNYA KESEJAHTERAAN MASYARAKAT


Merosotnya kesejahteraan masyarakat Bima yang salah satunya ditandai dengan gejala berkurangnya asset warga karena terpaksa dijual untuk menutup kebutuhan yang makin meningkat. Sementara asset yang tersedia tidak difungsikan secara maksimal. Konsekuensinya banyak warga yang terpaksa bergantung kepada jasa pinjaman yang berbau rente (riba) dengan bunga yang mencekik.

Buruknya fasilitas kesehatan memperparah keadaan. Sementara ketegangan dan konflik sosial dan isu peredaran narkoba, menurut pengusaha sukses ini, hanyalah dampak dari akutnya masalah kesejahteraan ekonomi. Inilah krisis yang melanda Bima, tapi masyarakat kurang menyadarinya.

Salah satu faktor penyebabnya adalah perputaran ekonomi tidak cukup menguntungkan karena eksistensi cukong-cukong lokal selama ini tidak memberikan manfaat yang berarti buat kesejahteraan masyarakat setempat.

Contoh sederhana saja, masalah pemasaran jagung dan bawang yang selalusaja di monopoli oleh cukong-cukong yang ada sehingga berdampak pada hilangnya hak pemerintah daerah untuk mendapatkan pemasukan baik pajak maupun retribusi yang berhujung pada melemahnya APBD yang ada dan pemerintahpun sudah dirugikan dalam penerimaan dana APBD yan seharusnya masuk dalam kas daerah, implikasi lainpun berdampak pada PAD yang tidak berjalan karna sisi home industri tidak ada yang berjalan maksimal dan bisa dikatakan telah mati suri.

Bukannya tidak muncul kreatifitas dalam produksi ekonomi, Cukup banyak anak muda di Bima yang kreatif dalam berkarya, misalnya karya lukis, pahat, cindera mata lain, Namun, tidak tersedia pasar untuk menjual lukisan tersebut, sehingga berakibat pada melemahnya semangat berkarya.

Kita sebenarnya bisa menerapkan seperti di Bali, berbagai kerajinan tangan karya anak-anak muda dan masyarakat di sana disediakan pasarnya, misalnya di Toko Krisna. Dengan begitu, terjadi perputaran ekonomi karena terpenuhinya mekanisme supplyand demand.

Share this article :

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA