MERANGSANG GELIAT EKONOMI DAN INVESTASI


Untuk mengatasi persoalan Ekonomi harus dimulai dengan merangsang minat pelaku usaha untuk investasi di Bima dan Ini gampang-gampang susah. Tapi harus dimulai dengan keberanian dan visi ke depan dalam melihat peluang ekonomi yang dapat disediakan oleh pemerintah kota Bima. Salah satunya menyelesaikan pembangunan PLTU yang telah lama mangkrak. PLTU ini strategis karena menjawab pertanyaaan dasar semua investor dari luar; “apakah pasokan energi listrik memadai?” Eksistensi industri energi akan memiliki dampak yang berlipat dan luas terhadap geliat ekonomi dan bisnis di berbagai sektor.

“Misalkan saja sektor pariwisata, Siapa yang menyangkal indahnya pemandangan laut dan bukit-bukit di Teluk Bima (Asa Kota). Banyak pengusaha kenalan saya yang mengagumi keindahan alam Bima. Mereka ingin sekali berinvestasi di sector pariwisata Bima.Tapi lagi-lagi pertanyaannya, apakah pasokan energi listrik cukup?”

Dengan adanya industri energy/PLTU maka dengan sendirinya menciptakan kebutuhan terhadap supply bahan bakar batu bara yang dapat dipasok oleh Kalimantan dengan kapal-kapal tongkangnya, dimana perusahaan daerah dapat ikut terlibat dalam kegiatan bisnis baik itu sebagai transportir maupun sebagai trader batubara, belum lagi kegiatan bisnis lain yang dapat dilakukan bila PLTU tersebut segera berfungsi.

Demikian juga revitalisasi pelabuhan laut kita, dengan adanya program tol laut harusnya dapat kita manfaatkan dengan maximal sehingga roda perputaran ekonomi di Kota Bima dapat efektif dan efisien. Namun, kapal-kapal niaga/besar tidak akan bersedia berlabuh di Kota Bima tanpa adanya muatan komoditi yang dapat diangkut balik ke luar Kota Bima. Tanpa itu mereka akan merugi. Padahal dengan hadirnya kapal-kapal besar ini komoditi andalan Bima, seperti bawang, jagung, kedelai, kacang tanah dll, dapat dimuat untuk dikirim keluar Bima.

“Jika kita melihat dalam sistem barter ekonomi “ada yang dibawa masuk ada pula yang dibawa keluar” artinya kapal-kapal besar yang masuk ke pelabuhan bima yang mengangkut niaga dan keluar dari pelabuhan bima harus membawa barang namun pada kenyataankontener-kontener yang parkir di sekitar pelabuhan Bima terlihat kosong dan terlihat tidak ada nilaibarter. Pelabuhan Kota Bima harus bisa difungsikan sebagai tempat transaksi ekonomi secara aktif. Tidak hanya dijadikan sebagai tempat transit,”

Tapi pertanyaannya kemudian, apakah produksi bawang yang tersedia dapat memenuhi permintaan secara konsisten? Lebih dari itu, kalaupun produksi cukup, apakah teknologi penyimpanan bawang di kapal sudah cukup tepat diterapkan agar tidak terjadi pembusukan? Beberapa petani mengaku bahwa mereka acap merugi diakibatkan mekanisme pemuatan dan penempatan bawang di kapal ditumpuk dan tidak mendapatkan sirkulasi udara.

Hal yang sama pun terjadi di dalam penyimpanan kedelei dan jagung yang akan diexpor keluar teritorial Bima. Pada titik inilah, dituntut peran pemerintah Kota dan Kabupaten untuk menfasilitasi teknologi pertanian dan penggudangan yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi sekaligus mengontrol kualitas penyimpanannya.

Share this article :

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA