H.SUTARMAN & KELUARGA, SILATURAHIM DENGAN INA KAU MARY



Rasa bahagia dan takjub terpancar dari wajah H. Sutarman karena diterima dengan penuh kekeluargaan saat bersilaturahim dengan Hajah Siti Mariam Muhammad Salahuddin atau kerap disapa Masyarakat Bima dengan Ina Kau Mary (Ibu Besar Maryam) Keturunan Kerajaan Bima beberapa waktu lalu.

Sutarman sengaja mengajak Istri dan putra putrinya agar mereka mengenal sosok Siti Mariam yang sangat Ia kagumi, karena dimasa tua dan menjelang usia 90 tahun, Putri dari Kesultanan Bima ke XXIV ini masih terlihat sehat dan hal yang sangat menarik , adalah Ia salah satu yang mampu membaca Naskah Kuno kitab Bo Sangaji Kai.

Seperti diketahui, Ratusan tahun yang lalu, naskah-naskah di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ditulis dengan aksara khusus, yang disebut aksara Bima. Setelah Islam masuk ke Bima, seluruh naskah-naskah kuno itu ditulis ulang dengan menggunakan huruf Arab-Melayu dan dikumpulkan dalam satu kitab bernama Bo Sangaji Ka dan tidak banyak warga yang dapat membaca naskah kuno yang hampir punah itu, Mungkin minat Masyarakat untuk mempelajarinya kurang, ungkap Maryam sedih.

Putri keenam dari Sultan Muhammad Salahuddin ini. kini berusia 89 tahun dan tidak memiliki keturunan, Ia meraih gelar doktor bidang filologi Fakultas Sastra Unpad pada usia 83 tahun. Bagi Maryam, menuntut ilmu tak ada batasnya. Meski usianya tak lagi muda, ia masih rajin menyebarkan ilmu tentang naskah-naskah kuno yang ia kuasai itu. Maryam pun tampak antusias saat diminta membacakan naskah kuno Bo Sangaji Kai.

Semangat Siti Maryam patut menjadi contoh bagi kita semua, Kata H. Sutaman pada putra-putrinya pun Ia menekankan pada Masyarakat Bima terutama para Generasi Mudanya bahwa menuntut ilmu memang tanpa batasannya, baik tua atau muda. Faktor umur memang ada pengaruhnya, namun jika semangat belajar kita terus berkobar nicaya akan lahir Mayam-Maryam lainnya di Kota Bima ini, Tegas Sutarman.

Maryam telah menterjemahkan naskah Bo Sangaji Kai ke dalam bahasa Indonesia. Karya-karyanya banyak tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Sayangnya, kemampuan membaca aksara Bima masih belum banyak yang mewarisi, mungkin minat masyarakat kurang tetapi Ia tetap giat menyebarkan ilmu filologi. Dari Wikipedia, filologi adalah ilmu yang mempelajari bahasa dalam sumber-sumber sejarah yang ditulis, yang merupakan kombinasi dari kritik sastra, sejarah, dan linguistik, Imbuhnya.

Maryam masih cukup sering menghadiri seminar-seminar tentang filologi, sejarah hingga arkeologi. Perempuan yang dikenal gesit di masa mudanya ini masih kuat bolak-balik NTB-Jakarta untuk menghadiri undangan-undangan seminar dan dialog serta pameran filologi.

Maryam mengenyam pendidikan S1 dan S2-nya di bidang hukum Universitas Indonesia tahun 1953 - 1960. Ia sempat menjadi Staf Khusus Bidang Kehakiman tahun 1957-1964. Maryam juga pernah menjadi anggota DPR RI tahun 1966-1968, Asisten Administrasi Sekretaris Wilayah Daerah NTB tahun 1964-1968 dan juga sebagai dosen di Universitas Mataram.

Maryam juga tetap konsisten dengan budaya dan kesenian Bima. Hal itu Ia buktikan dengan tetap menjadi mengelola sanggar tari bernama Paju Monca di Bima maupun Mataram hingga saat ini. Maryam pun masih peduli dengan perkembangan generasi muda, khususnya di Bima. Ia sangat menyayangkan sikap generasi muda Bima saat ini gampang tersulut emosinya, Dari hal yang sepele menjadi ajang perang antar warga hingga menimbulkan korban.

Maryam berpesan agar Pemerintah membuat program-program yang mengayongi seluruh lapisan Masyarakat dan mencari solusi agar benturan-benturan yang terjadi di tengah Masyarakat tidak terjadi lagi. Jangan saling menyalahkan, Perbedaan itu wajar dan memang harus terjadi, tetapi janganlah perbedaan yang dicari dan terus menerus disoroti, tetapi, cari dan temukan kebersamaan sebagai solusi membangun kota Bima yang lebih Maju, Damai dan Sejahtera, Pungkasnya.

Penulis: Abunawar Bima
Share this article :

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA