HAMDAN ZOELVA, BERANI MENEGAKAN KEADILAN



Menegakkan keadilan, dapat dilakukan siapa saja, bukan hanya oleh hakim, polisi, jaksa dan pejabat negara. Caranya dengan selalu berkata jujur dan benar, memberitakan yang benar, serta memberikan keterangan dan kesaksian yang benar, Demikian dijelaskan Mantan ketua MK Hamdan Zoelva dalam khotbah Salat Idul Fitri 1439 H di Masjid Nursiah Daud Paloh, Komplek Media Group, Kedoya, Jakarta Barat, Jumat (15/6/).

Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam itu mengatakan, Jangan karena benci dengan seseorang atau terlalu senang pada seseorang kemudian melakukan tindakan yang tidak jujur, berkata tidak benar, dan berbuat tidak adil. “Keadilan tidak bisa ditegakan bila mengabaikan kebenaran” ucapnya.

Ada lebih dari 53 kata adil dan mengandung kata adil dalam Al Quran, yang menerangkan bentuk keadilan yang diturunkan Allah SWT melalui Wahyu-Nya dan melalui Nabi dan Rasul dengan Hadist-Nya agar kita semua melakukan tindakan yang adil. “Umat Islam harus berani menegakan keadilan, sebab, esensi ajaran Islam adalah keadilan” tegasnya.

Menegakan keadilan antar umat manusia, harus dengan hati yang jernih dan bersih. jangan karena benci dan tidak suka pada sesorang atau kelompok lalu berbuat semena-mena terhadap keadilan dan jangan pula karena membela diri, membela orangtua, kerabat maupun kelompok, lalu memberikan kesaksian yang tidak benar dan tidak adil.

Keadilan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Jika pemimpin tidak adil, rakyat akan protes dan tidak percaya lagi, maka cepat atau lambat, pemimpin tersebut akan jatuh dan tidak berharga dimata masyarakat.

Keadilan adalah cita-cita kemerdekaan yang harus diwujudkan dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Sia-sialah darah dan jiwa para syuhada yang telah mengorbankan nyawa dan hartanya, jika keadilan tidak bisa ditegakan. (AB)

FESTIVAL RIMPU MENUNGGU PARTISIPASI ANDA


Pengaruh budaya moderen kian tidak terbendung lagi membuat anak-anak generasi rentan dan mudah tertarik, akibatnya sedikit demi sedikit budaya tradisi kian terkikis. "Jika ini dibiarkan, cepat atau lambat, warisan budaya akan segera punah, sehingga anak-anak generasi semakin tidak mengenal atau merasa asing dengan budayanya sendiri".

Hal Itulah yang menjadi dasar pemikiran para sesepuh dan tokoh masyarakat Bima-Dompu, sehingga tercetuslah ide cemerlang dalam semangat kebersamaan dan ikatan silaturahmi yang amat kuat sehingga terbentuklah kepanitiaan yang lengkap dengan satu persepsi, satu tujuan yakni mengadakan Festival Rimpu.

Festival Rimpu, sebenarnya sudah beberapa kali diadakan, namun kali ini cukup fenomental karena melibatkan 2 (dua) Kabupaten (Bima dan Dompu) dan 1 (satu) Kota Bima, daerah kecil diujung pulau sumbawa Provinsi NTB yang ingin menunjukkan eksistensi budaya leluhurnya dengan mengadakan Pawai Rimpu di jantung Ibukota Negara, Monas Jakarta, Minggu, 15 Juli 2018 mendatang.

Di perkirakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) peserta akan hadir memeriahkan acara tersebut karena selain mengadakan pawai Rimpu, juga mengadakan pagelaran seni budaya, pameran aneka kuliner dan juga promosi pariwisata daerah Bima dan Dompu.

Semangat yang telah ditunjukan oleh para sesepuh dan tokoh masyarakat Bima-Dompu di rerantauan, sepatutnya kita semua mengapresiasi dan mendukungkungnya, jika hanya mengandalkan semangat dari para tokoh tersebut, tidak mungkin acara sebesar itu bisa terselenggara.

Satu hal yang membuat kita jadi pesimis, ternyata sampai berita ini diturunkan, Panitia Pelaksana (Panpel) Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 mengalami kendala dalam hal dana. Ya, Dana yang terkumpul hanya sekitar nol koma sekian porsen dari yang telah dianggarkan, sangat jauh dari yang diharapkan, akan tetapi Panitia tetap optimis, acara tetap diselenggarakan sesuai kapasitas dan dana yang terkumpul.

Kesulitan dalam mengumpulkan dana tersebut, bisa terjadi karena acara yang sudah diagendakan ini bertepatan dengan pesta politik (tahun politik), sehingga orang lebih mementingkan urusan politik ketimbang urusan budaya, selain itu lebaran yang jatuh pada 15 Juni 2018 (sebulan sebelum acara festival rimpu), mungkin juga berpengaruh sehingga pengumpulan dana jadi terkendala.

Apapun permasalahannya, disinilah kita semua warga Bima dan Dompu diamanapun berada, diharapkan tetap semangat, seperti semangat yang telah ditunjukkan oleh para sesepuh kita, yang pantang menyerah, karena tetap ingin melaksanakan acara tersebut sesuai rencana. "Festival Rimpu Bima-Dompu 2018, adalah hajad kita bersama untuk dana Mbojo dan Dompu, Ayo, kita sama-sama sukseskan".

Untuk itu, dalam momentum yang bahagia di Hari Raya Idul Fitri 1439 H, Segenap Panitia Festival, mengajak semua pihak untuk ikut berpartisipasi dan bersedia menyisihkan sebagian rejeki THRnya sebagai bentuk dukungan atau suportnya demi suksesnya penyelenggaraan acara tersebut. Sumbangan dapat ditransfer melalui rekening FOKKA (Forum Komunikasi Kasabua Ade), Rek. Nomor: 1290010090138 Bank Mandiri.

Sekecil apapun sumbangan dan partisipasi Anda akan sangat bermanfaat dalam rangka mensukseskan Festival Rimpu. Segenab Panitia Festival Rimpu Bima-Dompu 2018, Mengucapkan Selamat Idul Fitri , 1 Syawal 1439 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. (AB)
#Rimpu #Festival #SeniBudaya
#Bima #Dompu #NTB
#SaveRimpu


KEK MANDALIKA MENYAPA DUNIA



Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Lombok NTB terus dibenahi, seperti pembangunan jaringan infrastruktur, penataan 5 (lima) pantai dengan total panjang 16 kilometer, Pembangunan toilet umum setara toilet hotel bintang lima, Sarana pengamanan, pengawasan, dan keselamatan di pantai. “Semua ditata dengan standar bintang lima dan keselamatan pantai tingkat dunia” jelas Direktur Utama PT Indonesia Tourism Development Corporation, Abdulbar M Mansoer.

Mandalika memiliki sejumlah keunggulan seperti luas kawasan Mandalika ialah 1.175 hektare (ha) dan 35 ha di antaranya digunakan untuk komersial, jika dibandingkan dengan kawasan Nusa Dua di Bali, luasnya hanya 350 ha, Jelas Mandalika lebih unggul, lanjut Abdulbar.

Fasilitas lain yang akan segera dibangun adalah dermaga khusus kapal pesiar mewah, taman tematis dan ruang terbuka hijau yang ditetapkan sebagai taman kawasan hutan seluas 120 ha. “Dengan dibangunnya Marina atau dermaga khusus tersebut, maka mandalika semakin jauh lebih unggul dengan Nusa Dua Bali” jelas Abdulbar.

Anggaran Rp250 miliar telah digunakan untuk mendukung infrastruktur, selanjutnya akan dibangun 26 ribu kamar di KEK Mandalika yang investasinya sebesar Rp4,2 triliun untuk infrastruktur jalan, lanskap, penerangan, dan lainnya, tidak termasuk pembangunan hotel. “Jika semuanya lancar, Target pembangunan akan selesai pada tahun 2021” Pungkasnya. (AB).

MEMAKNAI HIDUP DENGAN BERSYUKUR



Ketimpangan hidup sering disalah tafsirkan, seperti ; Ada yang sudah berkerja keras tetapi hasilnya kurang, ada yang kerjanya nyantai tapi hasilnya melimpah. Apa yang diharapkan sering tidak terwujud dalam kenyataan dan yang menjadi cita-cita, tidak terwujud sesuai dengan harapan. Ya Allah... ini tidak adil, keluhnya.

Ajaran Islam memberikan resep hidup yang sangat ampuh untuk menghadapi beragam ketimpangan hidup tersebut hanya dengan resep sederhana yaitu ‘Bersyukur’. Orang yang senantiasa bersyukur, tidak akan pernah takabur dengan kelebihan nikmat pemberian Allah SWT. Pun sebaliknya tidak pernah mengeluh ketika diterpa dengan segala kekurangan.

Ketika dia kaya atau miskin semuanya diterimanya dengan penuh syukur. Sebab, kalau tidak bersyukur, maka dia akan mudah menjadi manusia yang sombong, angkuh, dan ujub. Dengan bersyukur, akan menjaga dan membentengi diri dari keangkuhan, kesombongan, dan ketakaburan.

Jika tidak memiliki rasa bersyukur, maka ketika diuji dengan segala macam persoalan yang datang tiada henti-hentinya, maka yang dirasakan hanya kesal, kecewa, putus asa bahkan yang imannya rapuh, bisa-bisa bunuh diri. “Orang yang tidak bersyukur menerima nasibnya cenderung melukai diri sendiri yang membahayakan keselamatannya”.

Hidup itu sebenarnya sangat mudah, hanya saja kita yang membuatnya jadi susah, Kuncinya adalah bersyukurlah saat senang, saat lapang, saat kaya dan bersyukur pula pada saat kekurangan, kesulitan maupun cobaan lainnya. Sebab syukur itu menjadi benteng dalam menghadapi semua kondisi kehidupan. Semoga kita semua menjadi manusia yang pandai bersyukur atas kelebihan maupun kekurangan dari pemberian Allah SWT. Aamiin. (AB)

Dikutib dari: Ahmad Thib Raya - Dou Mbojo
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

FA AINA TADZHABUN?


Menarik untuk disimak sebuah pertanyaan Tuhan di dalam ayat Alquran, Fa Aina Tadzhabun? (Maka kalian mau ke mana?) (QS al-Takwir/81:26). Ayat itu tampil berdiri sendiri mengingatkan visi dan misi kehidupan kita, untuk apa kita lahir? Ke mana kita akan pergi? Apa tujuan hidup kita? Bekal apa yang harus disiapkan di dalam menjalani perjalanan hidup ini? Berapa lama kita akan hidup? Apa tanggung jawab di balik kehidupan ini? Terlalu banyak muatan makna pertanyaan Tuhan di dalam ayat pendek tersebut. Ayat tersebut menyentak kita untuk mempertanyakan dan menyadarkan kita di dalam menjalani sisa-sisa perjalanan hidup kita.

Jika ada pertanyaan tanpa jawaban di dalam Alquran, itu menunjukkan adanya jawaban penting yang harus ditanggapi. Kehidupan yang tersisa ini seharusnya kita jalani dengan visi dan tujuan yang jelas supaya kita tidak termasuk orang yang amat merugi di kemudian hari. Alangkah ruginya kalau kehidupan kita ini sama saja dengan kehidupan kita dengan masa lalu.

Ayat di atas seolah memberikan energi batin bagi kita untuk berubah (shifting). Bagaimana agar kualitas hidup kita hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari-hari masa depan kita lebih baik daripada hari ini. Hadis Nabi mengingatkan alangkah ruginya seseorang jika hidupnya hari ini sama saja dengan hari kemarin. Lebih rugi lagi jika hidupnya hari ini lebih buruk daripada hari kemarin. Tidak ada kata terlambat untuk mengevaluasi diri kita untuk merencanakan kualitas hidup lebih baik daripada hari kemarin, hari ini, dan hari-hari berikutnya.

Pertanyaan menarik itu bukan hanya penting dihayati secara individu, melainkan juga untuk keluarga, masyarakat, dan kita semua sebagai warga bangsa/negara karena ayat tersebut menggunakan lafaz jamak (tadzhabun). Jadi yang perlu mendapatkan direction kehidupan bukan hanya diri sendiri, melainkan juga keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Yang akan celaka bila tidak menjalani tata kelola kehidupan ini bukan hanya orang perorangan, melainkan juga anggota masyarakat dan bangsa atau negara.

Sejalan dengan ayat di atas, ada ayat lain mengingatkan, Likulli ummatin ajal, fa idza jaa ajaluhum la yasta’khiruna sa’atan wa la yastaqdimun (Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajal mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya (QS al-A’raf/7:34). Orang, keluarga, masyarakat, negara, rezim atau orde, yang tidak memiliki visi, misi, dan tujuan hidup yang jelas dikhawatirkan ajalnya akan tiba lebih awal. Khusus untuk ajal suatu masyarakat, Ibnu Khaldun pernah mengingatkan kepada kita terhadap empat generasi yang akan menentukan cepat atau lambatnya ajal masyarakat itu tiba, yaitu, pertama generasi perintis, kedua generasi pembangun, ketiga generasi penikmat, dan keempat generasi penghancur.

Setelah itu, muncul lagi generasi baru yang akan merintis, membangun, menikmati, dan selanjutnya kembali menghancurkan. Demikianlah seterusnya, sejarah selalu berulang. Alquran menayangkan beberapa contoh yang menunjukkan betapa riskannya ajal sebuah generasi. Terkadang individu yang memiliki perencanaan yang matang di dalam menjalani kehidupannya lebih panjang ajalnya daripada ajal masyarakatnya. Di antara generasi bangsa Indonesia banyak sekali yang pernah merasakan beberapa pergantian generasi (orde). Ada yang pernah menyaksikan tibanya ajal penjajahan Jepang, Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru. Terkadang umur individu kita lebih panjang daripada umur masyarakat atau rezim kita.

Sebaliknya, ada juga suatu komunitas lebih panjang usia kemasyarakatannya bila dibandingkan dengan usia individunya. Boleh jadi ada sebuah individu berkali-kali mati sebagai masyarakat atau rezim tetapi tetap tegar sebagai individu. Idealnya usia individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa/negara/rezim sama-sama awet dalam kehidupan yang ideal, sebagaimana ditegaskan di dalam cita-cita bangsa yang tertuang di dalam Preambul UUD 1945.

Dalam tahun atau bulan-bulan politik seperti tahun mendatang seharusnya kita semua wawas diri sambil memohon petunjuk Tuhan Yang Mahakuasa agar kita semua, baik sebagai individu, keluarga, masyarakat, maupun sebagai warga bangsa/negara, tetap berada di dalam lindungan Tuhan Yang Mahakuasa. Semoga kita semua tetap berada dalam suasana stabil, makmur, tenang, dan bahagia.

Penulis: Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta.

Foto: Ilustrasi Abunawar Bima
Sumber: MI.

MEMETIK HIKMAH DARI KISAH NABI MUSA AS


ALKISAH dalam Alquran Surah Al Ghafir mulai ayat 23, dikisahkan tentang perjuangan Nabi Musa AS melawan kezaliman seorang penguasa tertinggi atau raja di Mesir kala itu yang bernama Firaun. Kekuasaan dan kezaliman Firaun semakin tidak terkendali sampai-sampai mendapuk dirinya sebagai Tuhan. Karena itu, Nabi Musa diutus Allah untuk mengahiri segala kezaliman Firaun dan mengajak penduduk Mesir untuk melawan Firaun.

Dalam surah lain, dijelaskan bahwa sewaktu Musa dilahirkan, ibunya takut sekali, ia khawatir Musa akan dibunuh karena undang-undang yang dikeluarkan Firaun pada saat itu, bahwa setiap bayi yang lahir laki-laki harus dibunuh. Atas petunjuk Allah, Musa dihanyutkan dalam sebuah peti di sungai nil hingga ditemukan oleh istri Firaun, lalu Musa diangkat menjadi anaknya.

"Setelah dewasa, Nabi Musa mulai melawan Firaun dan 2 (dua) orang terdekat Firaun, yakni Haman dan Qarun. Haman merupakan politikus busuk, sedangkan Qarun ialah pebisnis rakus".

Nabi Musa mengajak penguasa agar bertindak lurus, politisi berbuat jujur, dan yang kaya raya menjadi pemilik harta yang adil, akan tetapi, semua ajakan Nabi Musa ditolak, bahkan, mereka menuduh Nabi Musa seorang penyihir dan pembohong, Padahal, Nabi Musa datang kepada mereka dengan membawa ayat-ayat Allah.

Pengikut Nabi Musa, kian hari kian bertambah banyak, hingga Firaun merasa khawatir dengan ajakan pembaruan oleh Nabi Musa yang akan mengganggu stabilitas kekuasaannya. Karena itu, Firaun menentang keras dan mengejar Nabi Musa dan pengikutnya hingga ketepi laut merah dan atas petunjuk dan mujijat Allah, Nabi Musa bisa melintasi laut merah, sementara Firaun dan semua pengikutnya tenggelam dan binasa didasar laut.

Pesan dari kisah tersebut adalah, setiap orang harus mawas diri terhadap kekuasaan yang diamanahkan, Jangan berlaku zalim atau berbuat sewenang-wenang, Keadilan harus ditegakkan dan Jangan pernah melupakan Kuasa Allah SWT, karena kekuasaan-Nya tak bisa ditandingi oleh siapapun. "Kelak semua yang diperbuat akan dipertanggung-jawabkan dan segala dosa akan mendapat pembalasan yang setimpal".(AB)


#SalamIbadah

HIKMAH DIBALIK MUSIBAH



MUSIBAH, bencana dan beragam cobaan, sesungguhnya adalah 'surat cinta dari Tuhan' karena Tuhan merindukan hamba-Nya, tetapi undangannya berupa kenikmatan dan segala macam kemewahan tidak pernah digubris, maka Tuhan mengubah surat undangan itu dalam bentuk musibah.

Jika orang ditimpa musibah, yang paling pertama sebagai tempat mengadu biasanya kepada Allah SWT, sebaliknya jika mendapat sebuah kemewahan, kemenangan, kenaikan pangkat dan jabatan, maka dengan rasa senang dan bangga akan mengabarkan berita itu kepada orang-orang dekat atau kelompoknya dengan suka ria bahkan pesta pora sampai ia lupa, yang seharusnya lebih diutamakan adalah memanjatkan puji syukur kepada yang Maha Pemberi Yakni Allah SWT.

Banyak contoh dalam kehidupan kita bahwa musibah sejatinya dijadikan sebagai hikmah untuk memacu agar lebih maju, kreatif, dan berhasil. Jangan pernah berhenti pada 1 (satu) jalan hanya karena tertutp oleh penghalang, sementara masih ada 1.000 (seribu) jalan lain yang terbuka lebar sebagai peluang.

Jangan pernah memusuhi musibah karena, semakin memusuhinya maka akan lebih terasa sakitnya. Jangan memusuhi penyakit karena penyakit itu akan lebih menyiksa dan mendera, Maka Nikmatilah segala penderitaan, niscaya rasa sakitnya akan berkurang bahkan menghilang.

Al Kisah, Nabi Ayyub didera penyakit hingga sekujur badannya dikerumuni belatung membuatnya dibuang di sebuah gua di pegunungan yang jauh dari perkampungan. Dia tersiksa sendirian, terasing dari dunia luar.

Nabi Ayyub tiba-tiba mengatakan kepada belatung; kalian dulu makhluk yang paling aku benci, di mana-mana saya mencari tabib untuk memusnahkanmu, tetapi kalian tetap betah di tubuhku. Sekarang kalian bersenang-senanglah karena ternyata kalian ialah sahabat setiaku. Satu-satunya yang tetap setia menemaniku di kegelapan gua ini. Ayyub tidak lagi merasa sakit dari gigitan belatung-belatung itu, malah Ia senang dan bahagia hidup di gua pengasingan itu.

Semoga kita semua bisa mengambil Hikmah dari Musibah yang menimpa, "Sesunnguhnya Musibah itu datang karena kita lalai mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT". (AB)

MENJAGA SILATURAHMI



SIBUK, seringkali menjadi alasan kenapa jarang bahkan nyaris tidak pernah berkunjung pada sanak keluarga atau kerabat lainnya. Padahal dengan saling berkunjung, saling menyapa akan mengharmoniskan hubungan kekeluargaan maupun persaudaraan dalam ikatan silaturahmi.

“Dan, bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya untuk kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S. An-Nisaa: 1).

Silaturahmi adalah kekuatan yang amat dashat dalam menjaga hubungan kekeluargaan, persaudaraan maupun dalam hidup berdampingan di tengah mayarakat. Dalam Islam mengajarkan bahwa sesama muslim harus bersatu, tidak boleh bercerai-berai, bertengkar apalagi bermusuhan, karena sesama muslim adalah saudara.

Tidak hanya sesama muslim, kepada penganut agama lainpun dianjurkan untuk tetap menjalin silaturahmi. “Dengan menjaga silaturahmi, keharmonisan hubungan antar keluarga maupun hidup ditengah masyarakat akan terjaga, nyaman dan tentram”.

Tidak sedikit orang yang memutuskan silaturahmi hanya karena permasalahan spele atau permasalahan kecil yang sejatinya jika bersabar dan menahan diri bisa diselesaikan dengan damai. Berbeda pandangan atau pilihan itu sah-sah saja, asal hubungi silaturahmi tetap terjaga. “Jangan sampai hanya karena sedikit perbedaan, menimbulkanperpecahan hingga memutuskan ikatan silaturahmi, Nauzubillah min zallik”.

Rasulullah bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Muslim).
Semoga bermanfaat. (AB).

MENJAGA LISAN



ALKISAH tentang seorang wanita yang ahli ibadah dan selalu berpuasa, hingga seorang sahabat Nabi memuji ibadah wanita tersebut dihadapan Rasulullah SAW, lalu ia berkata bahwa di sisi lain wanita itu sering menyakiti tetangga dengan lisannya. Rasulullah hanya berkomentar, “Dia di Neraka.”

Sesungguhnya seluruh ritual ibadah tidak akan berarti tanpa akhlak dan budi pekerti yang baik. Bukankah Rasulullah juga pernah bersabda yang artinya: “Berapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus.”

Kenapa puasa mereka tidak diterima? Karena mereka berpuasa tanpa berakhlak. Mereka hanya menahan lapar dan haus tanpa menahan anggota badan yang lain dari perbuatan keji dan mungkar, Subhanallah.

“Taqobballahu minna waminkum, semoga amal ibadah puasa kita diterima Allah Subhana Huwa Taala, Amin Ya Rabbal Alamin.”

PERAYAAN HARI KELAHIRAN PANCASILA



Pancasila dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, tidak hanya diakui di negeri sendiri, tetapi juga di akui oleh dunia, bahkan mereka sangat iri dengan Indonesia yang menjadikan Pancasila sebagai dasar negara.

“Pancasila menjadi dasar hidup yang menyatukan seluruh rakyat Indonesia meski berbeda latar belakang, adat istiadat, agama, budaya, serta suku, namun tetap bersatu dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.”

Dunia internasional saja menaruh penghormatan yang amat besar terhadap pancasila, mestinya setiap anak generasi bangsa ini sadar bahwa Pancasila merupakan komitmen kebanggaan bersama sebagai pemersatu bangsa yang harus dihormati, dijaga dan dipertahankan, Kalau bukan kita, Siapa lagi?

Pendiri Republik ini menyepakati Pancasila sebagai falsafah bangsa, Itulah sebabnya, sebagai upaya untuk terus mengingat terlebih kepada anak generasi bangsa ini, maka 1 Juni sebagai hari kelahiran Pancasila di rayakan agar kita semua mengetahui esensi kelahiran dan penciptaannya untuk mengukuhkan lagi semangat Pancasila dalam jati diri bangsa. (AB)



KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA