LAYANAN TIDAK DIPERBAIKI, KARGO MENUMPUK DI BANDARA


PENAIKAN tarif pengiriman yang telah diterapkan pihak maskapai penerbangan sebesar 20% hingga 70% tidak diikuti perbaikan pelayanan. Akibatnya, penumpukan barang terus terjadi dan membuat perusahaan jasa pe-ngiriman barang terlambat memenuhi permintaan dari pengguna jasa.

“Tarif dinaikkan, tapi pelayanan tidak ditingkatan bahkan lebih buruk. Ada barang yang telah masuk sejak 4 hari lalu tidak terangkut karena buruknya manajemen kargo dari maskapai penerbangan,” kata Ketua Bidang Transportasi & Infrastruktur DPP Asperindo Hari Sugiandhi di Jakarta, Rabu (12/12).

Hari yang juga Manager PT. Rush Cargo Nusantara ini, menolak anggapan hanya membuat opini, tapi fakta dan bukti nyata ia tunjukan langsung di lapangan dengan mengajak kami mengunjungi gudang kargo bandara Soetta, Kamis (13/12) malam, pukul 20.30 WIB.

Terkait carut marutnya pengelolaan kargo, Hari memaparkan beberapa point penting; Pertama, Sungguh sangat aneh dalam posisi "Peak Season" sekarang ini operator penerbangan justru mengurangi scedule penerbangan yang ini jadi anomaly, yang seharusnya ada extra flight ? What happen?

Kedua, setelah tarif kargo dinaikkan berulang-ulang sampai menyentuh level harga 90% kenaikan kenapa bukannya mereka mengimbangi dengan menambah scedule nya tapi justru mengurangi.

Ketiga, yang sudah resmi menjadi agen dari penerbangan, setelah digebuk dengan kenaikan tarif SMU, sekarang ditambah beban pengurangan "komisi agen" dari semula 7% kini tinggal 3%, Garuda Indonesia akan menerapkannya mulai 15 Desember 2018.

Sepertinya operator sedang "mengejar income" dan berusaha mengeruk sebanyak banyaknya income dari SMU dengan cara memeras keringat para pengguna jasa sebanyak banyaknya.

Dugaan saya, kata Hari, gerakan ini tidak akan berhenti dalam waktu dekat dan masih alan berlanjut untuk waktu yang cukup lama. Mereka sengaja reduced ‘number of flight’ untuk menciptakan ketergantungan shipper dalam teori ‘supply and demand’.

Kalau supply rendah maka demand akan naik dan pada saatnya ketika shipper dihadapkan pada tidak adanya alternative pilihan, maka kita akan seperti kerbau dicucuk hidungnya, maka berapapun harganya harus kita beli dan betapapun pahitnya harus kita telan. “Itu sebabnya nampak sekali para PolicyMaker dan Policy Holder Penerbangan seperti tutup mata dan telinga, seolah-olah tidak ada masalah dilapangan,” pungkas Hari Sugiandhi. (*)

Berita terkait, Baca epeper Media Indonesia, edisi, 13 December 2018 Halaman 13 atau  Media Indonesia On-Line: https://goo.gl/X5o5EX
***

SRI MULYANI MASUK DAFTAR 100 PEREMPUAN BERPENGARUH DUNIA


SRI Mulyani Indrawati, Menteri keuangan Indonesia menempati peringkat ke-78 dalam daftar 100 perempuan berpengaruh di dunia berdasarkan majalah Forbes, namun Sri enggan Menanggapi, Baginya yang terpenting adalah menjalankan kewajibannya dengan fokus dan terus bekerja keras.

Sri memaparkan bahwa, mengelola keuangan negara, sama seperti sebuah kapal yang sedang berlayar menuju suatu tujuan, kita tidak bisa berharap laut itu akan selamanya tenang, terkadang cuaca tidak bersahabat, terjadi gelombang besar, bahkan diterjang tsunami. Pada keadaan seperti itulah pilihan keputusan harus diambil agar semua penumpang selamat dan kapal tetap berlayar menuju tujuan yang telah ditetapkan.

Demikian juga dengan sebuah kebijakan publik. Setiap keputusan ada risikonya karena sangat sensitif dampaknya terhadap masyarakat, namun itu semua harus dilakukan. Kebijakan yang diambil harus mempunyai integritas tinggi agar dipercaya oleh masyarakat. Pemerintah harus mempunyai trust dari masyarakat.

Apabila sudah memiliki trust dan confidence, walaupun terdapat guncangan yang hebat, masyarakat akan tetap percaya dan yakin bahwa guncangan tersebut akan terlewati dengan selamat. “Pemerintah yang dipercaya masyarakat karena mempunyai integritas yang sudah teruji adalah sangat tak terhingga nilainya.”

Fokus kita sekarang adalah bagaimana menggunakan semua instrumen kebijakan fiskal kita untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui sektor konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi dan ekspor. Di lain sisi, kita tetap harus menjaga stabilitas apabila terjadi guncangan ekonomi, pungkasnya. (AB).
#Forbers #Ekonomi #Keuangan
***

INISIATOR PROGRAM SABANG MERAUKE


INDONESIA saat ini sedang darurat intoleransi maka benih-benih intoleransi harus segera disudahi agar kehidupan dapat berjalan normal sebelum terjadi konflik memecah belah bangsa. Hal itulah yang menginspirasi Ayu Kartika Dewi bersama teman-temannya membuat sebuah program 'Sabang Merauke' yaitu program pendidikan pertukaran pelajar antardaerah guna menanamkan kembali nilai-nilai toleransi.

Ayu mengaku tidak memiliki data sejak kapan bibit-bibit intoleransi itu muncul. Tapi jauh sebelum terjadi seperti pilkada atau misalnya pilpres yang kini semakin panas. “Pada tahun 1998 adalah potret kejadian yang mengerikan dari sebuah intoleransi, saat itu rakyat sesama bangsa dibakar, dibuat agar dibenci, difitnah agar yang tidak sepaham marah, membunuh, memperkosa mereka yang berbeda, sungguh menyeramkan dan menakutkan,” imbuhnya.

Trauma atas kejadian tersebut, kita harus melakukan sesuatu agar tidak terjadi lagi dan saya percaya bahwa dalam hidup kita harus punya keberanian untuk melakukan apa yang bisa dilakukan. Saya pernah jadi guru SD di Maluku Utara 11 tahun lalu atau setelah kerusuhan di sana selesai, tapi saya masih melihat bahwa bekas-bekas kerusuhan itu masih ada, kekeluargaan ditengah masyarakat masih tersekat-sekat, ada desa Islam, desa Kristen dan masih banyak prasangka satu sama lain. “saya berdiskusi dengan teman-teman untuk melakukan sesuatu.” ucap Ayu.

Kalau mau cari tujuan hidup, maka carilah dua hal, yaitu apa yang kita cintai dan apa yang membuat kita marah. Kalau kita tahu apa yang kita cintai, kita akan melakukan sesuatu yang terbaik pada orang yang kita cintai dan kalau kita tahu yang membuat kita marah, maka kita akan melakukan perubahan atau menghentikan apa yang membuat kita marah, “Inisiasi membuat Sabang Merauke, karena saya marah dengan intoleransi dan marah melihat anak kecil yang seharusnya masih murni tanpa prasangka tapi bisa punya kebencian sama orang yang tidak sefaham dengannya.’ Katanya.

Program Sabang Merauke, sudah berjalan 6 tahun dengan total peserta 400-an orang lebih, kalau relawan sudah ribuan yang sudah bergabung. Kami juga berkolaborasi dengan beberapa content creator untuk membuat video dan beberapa waktu lalu kita sudah menerbitkan buku anak-anak, yang terinspirasi dari cerita anak Sabang Merauke.

Banyak hal positif yang bisa didapatkan dalam kegiatan Sabang Merauke, salah satunya adalah mempertemukan orang-orang yang tidak sepaham. “Orang, kalau sudah berjumpa maka dinding-dinding prasangka akan runtuh jadi sangat penting mempertemukan mereka agar prasangka negatif menjadi positif dan ternyata... ternyata mereka tidaklah sejahat yang dibayangkan, ternyata orang Kristen tidak jahat seperti yang dibayangkan, ternyata orang Islam tidak mengerikan seperti yang digembar-gemborkan, tapi yang pasti, begitu banyak ternyatanya, pungkas Ayu. (AB).
#Inspirasi #SabangMerauke
***

PILAH PILIH MENERIMA ENDORSE PROMOSI PRODUK


NATALIE Sarah, 35, mengaku tidak sembarangan menerima tawaran iklan produk kosmetik di media sosialnya, kendati ia merupakan salah satu artis yang laris manis menerima tawaran endorse dari berbagai produk kosmetik. ”Ada beberapa kriteria yang harus ia pertimbangkan sebelum menerima tawaran endorse, antara lain produk tersebut harus terdaftar resmi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM).” Ucapnya.

Aktris pemilik nama lengkap Natalie Sarah Sianipar itu menegaskan, endorse yang ia terima hanyak yang umum-umun saja, tetapi kalau sudah ditawarin endorse untuk jenis obat injection, ia tidak tidak pernah mau menerimanya, “Enggak pernah, enggak pernah mau,” tegas ibu dua anak ini.

Natali juga mengaku, hanya sebatas membantu promosi saja, tidak ada ikatan, kewajiban maupun keharusan memakai produk yang ia endorse. “Ya sebatas endorse saja, tidak pernah aku pakai, kalaupun ingin aku pakai, dirinya akan konsultasi dulu dengan dokter dan klinik yang sudah menjadi langganannya, untuk memastikan atau menjamin kenyamanan, jika produk itu aku pakai.” Pungkas Natalie. (AB). @abunawars
Foto: Instagram @natalie_sarahs
Post by @abunawars
***

DANA DESA BERBUAH LAPANGAN BERSTANDAR FIFA


SAKTI LODAYA, Sebuah lapangan sepakbola bertaraf internasional, dibangun di atas lahan milik pemerintah desa, di Desa Cisayong, Tasikmalaya, Jawa Barat, dengan menggunakan anggaran dari dana desa sebesar Rp1,4 miliar. Lapangan seluas 93 x 54 meter tersebut memakai rumput Zoysia matrella yang sengaja didatangkan dari Eropa sesuai standar FIFA.

Rumput Zoysia matrella, dikenal memiliki kualitas tinggi, kerapatan, elastisitas, dan kemampuan menahan beban, pemulihan diri yang cepat, dan perakaran yang sempurna sehingga hal itu bisa mengurangi risiko cedera bagi para pemain.

Kepala Desa Cisayong Yudi Cahyudin mengatakan, Selama ini anggaran dari pemerintah daerah hanya cukup untuk perbaikan jalan, irigasi, dan renovasi madrasah. Setelah mendapatkan kucuran dana desa dari pemerintah pusat, Cisayong mampu membangun sarana olahraga yang sebelumnya tidak terbayangkan.

Menurutnya, Dengan adanya lapangan tersebut akan membawa perubahan positif di masa depan. Masyarakat pun bisa memanfaatkan lapangan itu sebagai tempat rekreasi dan jogging. Kalau untuk main sepakbola, kami sewakan dengan biaya Rp500 ribu per sekali main. "Urusan sewa lapangan, dikelola secara professional oleh Badan usaha milik desa (BUM-Des) Sakti Lodaya." pungkas Yudi.
#EpaperMI #DanaDesa

***

VANISHA AMELIA, CIPTAKAN CAMILA DARI BONGGOL PISANG


VANISHA Amelia dibantu dua rekannya Latifatul Fadhilah dan Niken Ariningtyas melakukan riset bonggol pisang selama kurang lebih dua pekan. Hasil riset yang mereka lakukan, selain mengandung karbohidrat setara nasi, bonggol pisang juga kaya akan serat sehingga baik untuk pencernaan.

Agar bisa diolah menjadi panganan layak konsumsi, bonggol pisang harus diiris tipis terlebih dahulu. Setelah itu, irisan tersebut dicuci bersih dan direndam dalam air kapur.

Perendaman ini untuk menghilangkan getah yang masih menempel pada bonggol pisang. Setelah direndam, irisan bonggol kembali dicuci dan dikukus. Baru, kemudian digoreng dan diberi bumbu sesuai selera. "Ini sudah kami lakukan riset dan dipastikan aman untuk dikonsumsi," imbuhnya.

Camilan yang diberi nama Tera Bonggol Pisang ini diklaim memiliki tekstur yang unik. Meskipun melalui proses penggorengan, namun camilan ini tidak renyah dan tetap mempunyai tekstur kenyal.

Kreasi siswa ini mendapat apresiasi dari pihak sekolah. Kepala Sekolah MAN 1 Tulungagung Sugeng Riyadi mendukung penuh setiap riset yang dilakukan siswanya, bahkan akan membantu pengembagan riset tersebut.

"Seperti camilan ini, kami akan membantu untuk bisa dipasarkan, minimal di sekolah sendiri sehingga bisa menjadi tambahan saku bagi siswanya," ujar Sugeng.(OL-5)

Sumber: Media Indonesia
#Inspiratif #Creatif
***

INSPIRASI BAGIMU ANAK NEGERI




NEGERI ini adalah negeri pertanian, sebagian besar penduduknya menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian, namun ironisnya, nasib para petani justru terabaikan hingga terpasung dalam hidup yang tidak berkecukupan. Alhamdulillah, diantara sekian banyak anak keluarga petani, ada yang tanpa kenal lelah, terus berjuang mempertaruhkan cita-cita tinggi, meski hanya bermodalkan semangat juang tetapi Ia mampu meraih prestasi gemilang, salah satunya adalah Heni Sri Sundani.

Heni yang membekali dirinya dengan semanagat juang, kuliah di Universitas Saint Mary Hong Kong, Jurusan Manajemen Kewirausahaan, hingga lulus dengan predikat cum laude pada 2013. Seusai menggenggam gelar sarjana, ia pulang kembali ke tanah kelahirannya di Rancatapen, Ciamis, Jawa Barat.

Tidak ingin desanya terus terpuruk, Heni tidak tinggal diam, dengan berbekal lebih dari tiga ribu buku yang dibeli di Hong Kong, ia kemudian mendirikan perpustakaan di rumahnya. Kehadiran perpustakaan tersebut menumbuhkan minat baca warga sekitar. “Semangat saya kian menggebu seiring minat baca warga kian tumbuh, karena ia yakin dengan minat membaca, akan melahirkan anak-anak negeri yang pintar”. ucap Heni.

Belakangan muncul tantangan baru setelah Heni menikah dengan Aditia Ginantaka yang mengharuskan Ia pindah ke Bogor dan tinggal bersama suami disana. Heni kembali mendapati kenyataan, sebagian besar warga di sekitar tempat tinggalnya bermata pencarian sebagai buruh tani, pengojek, buruh kasar, dan asisten rumah tangga, imbuh Heni.

Yang bikin miris kata Heni, warga sekitar memanfaatkan selokan untuk MCK (mandi, cuci, dan kakus). Melihat kondisi tersebut, ia berdiskusi dengan suami untuk mencari solusi membantu mereka, hingga lahirlah Gerakan Anak Petani Cerdas (GAPC), sebuah gerakan pendidikan dan pendampingan belajar kepada anak petani miskin.

GAPC mengajarkan tiga aspek pelajaran dasar, yakni kemampuan linguistik, kemampuan bahasa asing, kemampuan literasi, dan kemampuan logika serta membekali mereka kemampuan dibidang komputer, pertanian, peternakan, perkebunan, dan bahasa daerah.

Kiprah GAPC semakin diminati, awalnya hanya mendidik 15 siswa di Kampung Sasak, Desa Jampang, Bogor. Kini GAPC tersebar di lebih dari 11 kampung dengan peserta 2 ribu anak, mulai anak petani, anak asisten rumah tangga, anak TKI, anak pengojek, sampai pemulung. juga memberdayakan istri-istri petani memproduksi anyaman keset yang berasal dari limbah perca pabrik boneka. Penerima manfaat dari seluruh program ini mencapai lebih dari 150 ribu orang dari Aceh hingga Papua, yaitu anak petani, janda-janda, dan ibu-ibu.

GAPC mengandalkan dana dari kebaikan para donatur dengan cara membuka kesempatan donatur dengan cara berinvestasi di hewan kurban atau investasi tambak ikan lele dengan sistem bagi hasil di kisaran petani: 50%, investor: 40%, komunitas: 10%, dan memberdayakan 100 petani di Bogor, Lombok, Tasikmalaya, Banjar, dan Ciamis.

Ingin mengetahui lebih lengkap Sosok Heni dan sosok inspiratif lainnya, silakan saksikan MetroTV dalam acara Big Circle, Dream Big Make an Impact dalam episode Harmoni Bisnis dan Alam yang akan ditayakan pada Minggu, 14 Oktober 2018, pukul 19.05-20.00 WIB. (H-2)

Sumber: Media Indonesia
Post by IG @abunawars
Foto: Instagram @henisrisundani
Facebook Heni : Heni Sri Sundani Jaladara
#Inspirasi

KONSER AMAL GEMPA LOMBOK, TERKUMPUL DANA MILIARAN RUPIAH


Elek Yo Band, sama seperti band-band lainnya yang berusaha tampil dengan maksimal, hanya saja yang berbeda adalah bayarannya yang terbilang sangat fantastik, Bayangkan, untuk membawakan empat lagu, termasuk duet dengan penyanyi ternama Yuni Shara, mereka dibayar Rp 10 miliar pada saat tampil di Studio Indosiar dalam konser amal untuk gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (29/8/2018) malam.

Sebelum tampil, Konser yang dihadiri oleh sejumlah artis papan atas itu untuk mengumpulkan dana bagi korban gempa Lombok NTB itu empat lagu dilelang pada penonton yang hadir. Dari harga RP.100 Juta, hingga terkunci pada harga Rp.10 Miliar yang seluruhnya akan disumbangkan untuk Lombok yang sedang berduka atas bencana gempa.

Grup band yang beranggotakan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, Menteri PUPR Basuki Hadimuljo, menteri perhubungan Budi karya Sumadi, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi , Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki itu mampu menggelorakan semangat kebersamaan dalam menggalang dana untuk bencana Lombok NTB.

Gema Asian Games 2018 ikut menggelorakan semangat konser amal tersebut, saat lelang baju yang dipakai oleh pahlawan Asian Games seperti Kaos Anthony Ginting Laku Rp 150 Juta, Kaos Jonatan Christie (Jojo) Laku Rp 400 Juta tidak ketinggalan Jaket yang dipakai Puan Maharani Laku Rp 200 Juta

Lelang benda-benda pribadi milik tokoh terkenal semakin seru, Seperti Gitar klasik milik Menteri Tenaga kerja Hanif Dhakiri yang semula dilelang Rp.100 Juta, ahirnya harga terkunci pada penawar tertinggi dari pengusaha terkenal Jonathan Thahir dengan seharga Rp 1 Miliar, sontak Hanif langsung bersorak dan loncat-loncat kegembiraan di atas panggung. “Alhamdulillah, Lombok bisa tersenyum kembali, Senyum Lombok, senyum untuk kita semua” ucap Hanif di atas panggung. (AB)


Penulis: abunawarbima@gmail.com


AKSI CEPAT TANGGAP GEMPA LOMBOK


ACT Komunitas Salaja Mbojo (Kosambo) bekerjasama dengan ACT MRI Bima, sudah mensuplai 500 dus air mineral ‘Rangga’ kepada saudara-saudara kita di Lombok yang tertimpa bencana Gempa.

Bantuan tersebut tidaklah seberapa, tapi inilah wujud nyata dari kepedulian kami untuk meringankan beban saudara-saudara kita di Lombok. “Siapa yang dilapangkan rezekinya, mari ulurkan tangan untuk membantu” Demikian di katakan Pimpinan Kosambo yang juga pengusaha air mineral 'Rangga' Bp. Sutarman Joy dalam siaran persnya, Sabtu (11/08/2018).

Lebih lanjut Sutarman mengatakan, gerakan menggalang dana dengan hastag #gerakan500dusairminum Alhamdulillah, semua bergerak dengan 'Aksi Cepat Tanggap', tua muda bergandengan tangan, dalam satu hari terkumpul lebih dari 800 dus air minum dan uang tunai sebesar Rp. 11.000.000, (sebelas juta rupiah), ucap Sutarman.




Tim ACT sempat kesulitan mencari armada untuk mengangkut bantuan ke Lombok, tapi Alhamdulillah, berkat kerjasa sama yang cukup baik, semua dimudahkan. "Bantuan sudah diserah terimakan di Lombok" pungkas Sutarman. (AB).



KEKOMPAKAN PANITIA, DIBALIK SUKSESNYA FESTIVAL RIMPU BIMA-DOMPU 2018


Merintis sebuah ide atau gagasan adalah pekerjaan mudah, namun mensosialisasikan dengan merangkul orang-orang hebat hingga gagasan tersebut bisa terlaksana adalah pekerjaan yang sangat sulit dan rumit, hanya orang yang sabar dan mau bekerja dengan hati tanpa pamrih yang mampu melakukannya, itulah yang ditunjukan oleh pelopor acara Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 seperti Bams Uba Zeo, Syofian Thahir, Subhan Dhinata , Jamaluddin Ikraman dan yang lainnya.

Tidak ada keraguan yang terpancar dari semangat mereka yang terus menerus, tanpa kenal lelah mensosialisasikan gagasan tersebut. Banyak pihak mengapresiasi namun tidak sedikit yang mencibir, bahkan meragukan acara tersebut bisa terselenggara, namun semangat pantang mundur yang mereka tunjukan membuat gaungnya kian bergema, maka pada, Ahad (25/02/2018) di rumah tokoh masyarakat asal Bima Bp. H. Ola Abdollah Jl. Cempaka Putih Barat 26 No.4 Jakarta Pusat, menjadi tempat bersejarah diadakannya rapat pertama sekaligus pembentukan Panitia Pelaksana Festival Rimpu Bima-Dompu 2018..

Setelah kepanitiaan terbentuk, sosialisasi semakin gencar dilakukan, panitia langsung bekerja sesuai bidang yang ditunjuk, begitu halnya dengan panitia inti, terus melobi dan mengatur strategi dari hal-hal kecil sampai hal terpenting yang sangat menguras tenaga, terutama isu-isu di luar kepanitiaan yang sengaja dihembus untuk menggagalkan rencana tersebut.

Gencarnya promosi melalui social media yang dilakukan Yuli H Ode dengan Lomba foto Busana Rimpu yang ia gagas, patut di apresiasi, sekalipun Ia berada dari balik layar dan tidak masuk kepanitiaan, tetapi Ia terus menerus, tanpa mengenal lelah memviralkan acara tersebut. Tercatat di Geoogle Analitic, Lomba Foto Busana Rimpu (memasang foto profile di akun facebookmasing-masing) berperan amat besar sehingga acara tersebut viral hingga ke luar negeri, bahkan wanita yang bukan berasal dari Bima dan Dompu ikut berpartisipasi memeriahkan lomba foto tersebut.

Komitmen kebersamaan dari berbagai elemen warga Bima dan Dompu yang memiliki kesamaan bahasa dan budaya berupa ‘Rimpu’ mampu menyingkirkan segala perbedaan atau gesekan-gesekan yang terjadi, sehingga terjalin ikatan silaturahim yang baik bahkan bersenergi mengadakan Festival Rimpu.

Hasil kerja seluruh panitia disosialisasikan melalui grup Wa ‘Panpel Festival Rimpu’ yang sengaja dibuat untuk memudahkan koordinasi, meskipun demikian, beberapa kali rapat tetap diadakan untuk memaparkan secara aktual hasil yang telah dicapai. Diskusi-diskusi panjang nan melelahkan sering terjadi, tujuannya bukan memperlebar perbedaan tetapi menyamakan persepsi agar segala rencana yang telah disusun berjalan dengan baik.

Mungkin masyarakat tidak terlalu memahami bagaimana peliknya panitia mendapatkan izin dan rekomendasi dari Gubernur DKI atau izin-izin lain karena kegiatan ini masuk wilayah R1, dekat Istana Negara, tentu saja tidak mudah untuk mendapatkan izin, tetapi berkat kebersamaan panitia yang amat kuat, semua permasalahan teratasi.

Diskusi lain yang lebih menguras tenaga dan pikiran adalah anggaran yang terkumpul belum mencukupi, padahal, hari pelaksanaannya tinggal menghitung hari, sehingga panitia terus berpacu dengan waktu melobi sejumlah para donatur. Lobi-lobi berhasil dilakukan, namun dana yang terkumpul masih sangat jauh dari yang diharapkan. Semangat panitia yang tidak pernah kendur, sekalipun anggaran belum mencukupi, acara tetap dilaksanakan sesuai anggaran yang ada dan diluar perkiraan, acara berjalan lancar dan sukses luar biasa.

Keberhasilan penyelenggaraan Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 yang sukses tersebut, bukan karena siap-siapa, juga bukan dari hasil kerja keras orang per-orangan baik ketua maupun anggota lainnya, tetapi hasil kerja sama tim Panitia Festival Rimpu yang mampu mempertahankan semangat kebersamaan dan kekompakan yang sepantasnya kita semua mengapresiasianya.

“Kebersamaan yang sudah terjalin dengan baik tersebut, harus dipertahankan agar pelaksanaan acara yang sama pada kesempatan yang akan datang dapat dilakukan lebih baik lagi dan kita semua menyadari bahwa pelaksanaan Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 masih banyak kekurangannya, maka dengan belajar dari segala kekurangan tersebut, sejatinya akan menemukan hal-hal positif sehingga penyelenggaraan acara selanjutnya akan lebih baik dan lebih sempurna lagi”, Semoga. (AB)

Penulis: abunawarbima@gmail.com


KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA