KONSER AMAL GEMPA LOMBOK, TERKUMPUL DANA MILIARAN RUPIAH


Elek Yo Band, sama seperti band-band lainnya yang berusaha tampil dengan maksimal, hanya saja yang berbeda adalah bayarannya yang terbilang sangat fantastik, Bayangkan, untuk membawakan empat lagu, termasuk duet dengan penyanyi ternama Yuni Shara, mereka dibayar Rp 10 miliar pada saat tampil di Studio Indosiar dalam konser amal untuk gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (29/8/2018) malam.

Sebelum tampil, Konser yang dihadiri oleh sejumlah artis papan atas itu untuk mengumpulkan dana bagi korban gempa Lombok NTB itu empat lagu dilelang pada penonton yang hadir. Dari harga RP.100 Juta, hingga terkunci pada harga Rp.10 Miliar yang seluruhnya akan disumbangkan untuk Lombok yang sedang berduka atas bencana gempa.

Grup band yang beranggotakan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, Menteri PUPR Basuki Hadimuljo, menteri perhubungan Budi karya Sumadi, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi , Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki itu mampu menggelorakan semangat kebersamaan dalam menggalang dana untuk bencana Lombok NTB.

Gema Asian Games 2018 ikut menggelorakan semangat konser amal tersebut, saat lelang baju yang dipakai oleh pahlawan Asian Games seperti Kaos Anthony Ginting Laku Rp 150 Juta, Kaos Jonatan Christie (Jojo) Laku Rp 400 Juta tidak ketinggalan Jaket yang dipakai Puan Maharani Laku Rp 200 Juta

Lelang benda-benda pribadi milik tokoh terkenal semakin seru, Seperti Gitar klasik milik Menteri Tenaga kerja Hanif Dhakiri yang semula dilelang Rp.100 Juta, ahirnya harga terkunci pada penawar tertinggi dari pengusaha terkenal Jonathan Thahir dengan seharga Rp 1 Miliar, sontak Hanif langsung bersorak dan loncat-loncat kegembiraan di atas panggung. “Alhamdulillah, Lombok bisa tersenyum kembali, Senyum Lombok, senyum untuk kita semua” ucap Hanif di atas panggung. (AB)


Penulis: abunawarbima@gmail.com


AKSI CEPAT TANGGAP GEMPA LOMBOK


ACT Komunitas Salaja Mbojo (Kosambo) bekerjasama dengan ACT MRI Bima, sudah mensuplai 500 dus air mineral ‘Rangga’ kepada saudara-saudara kita di Lombok yang tertimpa bencana Gempa.

Bantuan tersebut tidaklah seberapa, tapi inilah wujud nyata dari kepedulian kami untuk meringankan beban saudara-saudara kita di Lombok. “Siapa yang dilapangkan rezekinya, mari ulurkan tangan untuk membantu” Demikian di katakan Pimpinan Kosambo yang juga pengusaha air mineral 'Rangga' Bp. Sutarman Joy dalam siaran persnya, Sabtu (11/08/2018).

Lebih lanjut Sutarman mengatakan, gerakan menggalang dana dengan hastag #gerakan500dusairminum Alhamdulillah, semua bergerak dengan 'Aksi Cepat Tanggap', tua muda bergandengan tangan, dalam satu hari terkumpul lebih dari 800 dus air minum dan uang tunai sebesar Rp. 11.000.000, (sebelas juta rupiah), ucap Sutarman.




Tim ACT sempat kesulitan mencari armada untuk mengangkut bantuan ke Lombok, tapi Alhamdulillah, berkat kerjasa sama yang cukup baik, semua dimudahkan. "Bantuan sudah diserah terimakan di Lombok" pungkas Sutarman. (AB).



KEKOMPAKAN PANITIA, DIBALIK SUKSESNYA FESTIVAL RIMPU BIMA-DOMPU 2018


Merintis sebuah ide atau gagasan adalah pekerjaan mudah, namun mensosialisasikan dengan merangkul orang-orang hebat hingga gagasan tersebut bisa terlaksana adalah pekerjaan yang sangat sulit dan rumit, hanya orang yang sabar dan mau bekerja dengan hati tanpa pamrih yang mampu melakukannya, itulah yang ditunjukan oleh pelopor acara Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 seperti Bams Uba Zeo, Syofian Thahir, Subhan Dhinata , Jamaluddin Ikraman dan yang lainnya.

Tidak ada keraguan yang terpancar dari semangat mereka yang terus menerus, tanpa kenal lelah mensosialisasikan gagasan tersebut. Banyak pihak mengapresiasi namun tidak sedikit yang mencibir, bahkan meragukan acara tersebut bisa terselenggara, namun semangat pantang mundur yang mereka tunjukan membuat gaungnya kian bergema, maka pada, Ahad (25/02/2018) di rumah tokoh masyarakat asal Bima Bp. H. Ola Abdollah Jl. Cempaka Putih Barat 26 No.4 Jakarta Pusat, menjadi tempat bersejarah diadakannya rapat pertama sekaligus pembentukan Panitia Pelaksana Festival Rimpu Bima-Dompu 2018..

Setelah kepanitiaan terbentuk, sosialisasi semakin gencar dilakukan, panitia langsung bekerja sesuai bidang yang ditunjuk, begitu halnya dengan panitia inti, terus melobi dan mengatur strategi dari hal-hal kecil sampai hal terpenting yang sangat menguras tenaga, terutama isu-isu di luar kepanitiaan yang sengaja dihembus untuk menggagalkan rencana tersebut.

Gencarnya promosi melalui social media yang dilakukan Yuli H Ode dengan Lomba foto Busana Rimpu yang ia gagas, patut di apresiasi, sekalipun Ia berada dari balik layar dan tidak masuk kepanitiaan, tetapi Ia terus menerus, tanpa mengenal lelah memviralkan acara tersebut. Tercatat di Geoogle Analitic, Lomba Foto Busana Rimpu (memasang foto profile di akun facebookmasing-masing) berperan amat besar sehingga acara tersebut viral hingga ke luar negeri, bahkan wanita yang bukan berasal dari Bima dan Dompu ikut berpartisipasi memeriahkan lomba foto tersebut.

Komitmen kebersamaan dari berbagai elemen warga Bima dan Dompu yang memiliki kesamaan bahasa dan budaya berupa ‘Rimpu’ mampu menyingkirkan segala perbedaan atau gesekan-gesekan yang terjadi, sehingga terjalin ikatan silaturahim yang baik bahkan bersenergi mengadakan Festival Rimpu.

Hasil kerja seluruh panitia disosialisasikan melalui grup Wa ‘Panpel Festival Rimpu’ yang sengaja dibuat untuk memudahkan koordinasi, meskipun demikian, beberapa kali rapat tetap diadakan untuk memaparkan secara aktual hasil yang telah dicapai. Diskusi-diskusi panjang nan melelahkan sering terjadi, tujuannya bukan memperlebar perbedaan tetapi menyamakan persepsi agar segala rencana yang telah disusun berjalan dengan baik.

Mungkin masyarakat tidak terlalu memahami bagaimana peliknya panitia mendapatkan izin dan rekomendasi dari Gubernur DKI atau izin-izin lain karena kegiatan ini masuk wilayah R1, dekat Istana Negara, tentu saja tidak mudah untuk mendapatkan izin, tetapi berkat kebersamaan panitia yang amat kuat, semua permasalahan teratasi.

Diskusi lain yang lebih menguras tenaga dan pikiran adalah anggaran yang terkumpul belum mencukupi, padahal, hari pelaksanaannya tinggal menghitung hari, sehingga panitia terus berpacu dengan waktu melobi sejumlah para donatur. Lobi-lobi berhasil dilakukan, namun dana yang terkumpul masih sangat jauh dari yang diharapkan. Semangat panitia yang tidak pernah kendur, sekalipun anggaran belum mencukupi, acara tetap dilaksanakan sesuai anggaran yang ada dan diluar perkiraan, acara berjalan lancar dan sukses luar biasa.

Keberhasilan penyelenggaraan Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 yang sukses tersebut, bukan karena siap-siapa, juga bukan dari hasil kerja keras orang per-orangan baik ketua maupun anggota lainnya, tetapi hasil kerja sama tim Panitia Festival Rimpu yang mampu mempertahankan semangat kebersamaan dan kekompakan yang sepantasnya kita semua mengapresiasianya.

“Kebersamaan yang sudah terjalin dengan baik tersebut, harus dipertahankan agar pelaksanaan acara yang sama pada kesempatan yang akan datang dapat dilakukan lebih baik lagi dan kita semua menyadari bahwa pelaksanaan Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 masih banyak kekurangannya, maka dengan belajar dari segala kekurangan tersebut, sejatinya akan menemukan hal-hal positif sehingga penyelenggaraan acara selanjutnya akan lebih baik dan lebih sempurna lagi”, Semoga. (AB)

Penulis: abunawarbima@gmail.com


HAMDAN ZOELVA, BERANI MENEGAKAN KEADILAN



Menegakkan keadilan, dapat dilakukan siapa saja, bukan hanya oleh hakim, polisi, jaksa dan pejabat negara. Caranya dengan selalu berkata jujur dan benar, memberitakan yang benar, serta memberikan keterangan dan kesaksian yang benar, Demikian dijelaskan Mantan ketua MK Hamdan Zoelva dalam khotbah Salat Idul Fitri 1439 H di Masjid Nursiah Daud Paloh, Komplek Media Group, Kedoya, Jakarta Barat, Jumat (15/6/).

Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam itu mengatakan, Jangan karena benci dengan seseorang atau terlalu senang pada seseorang kemudian melakukan tindakan yang tidak jujur, berkata tidak benar, dan berbuat tidak adil. “Keadilan tidak bisa ditegakan bila mengabaikan kebenaran” ucapnya.

Ada lebih dari 53 kata adil dan mengandung kata adil dalam Al Quran, yang menerangkan bentuk keadilan yang diturunkan Allah SWT melalui Wahyu-Nya dan melalui Nabi dan Rasul dengan Hadist-Nya agar kita semua melakukan tindakan yang adil. “Umat Islam harus berani menegakan keadilan, sebab, esensi ajaran Islam adalah keadilan” tegasnya.

Menegakan keadilan antar umat manusia, harus dengan hati yang jernih dan bersih. jangan karena benci dan tidak suka pada sesorang atau kelompok lalu berbuat semena-mena terhadap keadilan dan jangan pula karena membela diri, membela orangtua, kerabat maupun kelompok, lalu memberikan kesaksian yang tidak benar dan tidak adil.

Keadilan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Jika pemimpin tidak adil, rakyat akan protes dan tidak percaya lagi, maka cepat atau lambat, pemimpin tersebut akan jatuh dan tidak berharga dimata masyarakat.

Keadilan adalah cita-cita kemerdekaan yang harus diwujudkan dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Sia-sialah darah dan jiwa para syuhada yang telah mengorbankan nyawa dan hartanya, jika keadilan tidak bisa ditegakan. (AB)

FESTIVAL RIMPU MENUNGGU PARTISIPASI ANDA


Pengaruh budaya moderen kian tidak terbendung lagi membuat anak-anak generasi rentan dan mudah tertarik, akibatnya sedikit demi sedikit budaya tradisi kian terkikis. "Jika ini dibiarkan, cepat atau lambat, warisan budaya akan segera punah, sehingga anak-anak generasi semakin tidak mengenal atau merasa asing dengan budayanya sendiri".

Hal Itulah yang menjadi dasar pemikiran para sesepuh dan tokoh masyarakat Bima-Dompu, sehingga tercetuslah ide cemerlang dalam semangat kebersamaan dan ikatan silaturahmi yang amat kuat sehingga terbentuklah kepanitiaan yang lengkap dengan satu persepsi, satu tujuan yakni mengadakan Festival Rimpu.

Festival Rimpu, sebenarnya sudah beberapa kali diadakan, namun kali ini cukup fenomental karena melibatkan 2 (dua) Kabupaten (Bima dan Dompu) dan 1 (satu) Kota Bima, daerah kecil diujung pulau sumbawa Provinsi NTB yang ingin menunjukkan eksistensi budaya leluhurnya dengan mengadakan Pawai Rimpu di jantung Ibukota Negara, Monas Jakarta, Minggu, 15 Juli 2018 mendatang.

Di perkirakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) peserta akan hadir memeriahkan acara tersebut karena selain mengadakan pawai Rimpu, juga mengadakan pagelaran seni budaya, pameran aneka kuliner dan juga promosi pariwisata daerah Bima dan Dompu.

Semangat yang telah ditunjukan oleh para sesepuh dan tokoh masyarakat Bima-Dompu di rerantauan, sepatutnya kita semua mengapresiasi dan mendukungkungnya, jika hanya mengandalkan semangat dari para tokoh tersebut, tidak mungkin acara sebesar itu bisa terselenggara.

Satu hal yang membuat kita jadi pesimis, ternyata sampai berita ini diturunkan, Panitia Pelaksana (Panpel) Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 mengalami kendala dalam hal dana. Ya, Dana yang terkumpul hanya sekitar nol koma sekian porsen dari yang telah dianggarkan, sangat jauh dari yang diharapkan, akan tetapi Panitia tetap optimis, acara tetap diselenggarakan sesuai kapasitas dan dana yang terkumpul.

Kesulitan dalam mengumpulkan dana tersebut, bisa terjadi karena acara yang sudah diagendakan ini bertepatan dengan pesta politik (tahun politik), sehingga orang lebih mementingkan urusan politik ketimbang urusan budaya, selain itu lebaran yang jatuh pada 15 Juni 2018 (sebulan sebelum acara festival rimpu), mungkin juga berpengaruh sehingga pengumpulan dana jadi terkendala.

Apapun permasalahannya, disinilah kita semua warga Bima dan Dompu diamanapun berada, diharapkan tetap semangat, seperti semangat yang telah ditunjukkan oleh para sesepuh kita, yang pantang menyerah, karena tetap ingin melaksanakan acara tersebut sesuai rencana. "Festival Rimpu Bima-Dompu 2018, adalah hajad kita bersama untuk dana Mbojo dan Dompu, Ayo, kita sama-sama sukseskan".

Untuk itu, dalam momentum yang bahagia di Hari Raya Idul Fitri 1439 H, Segenap Panitia Festival, mengajak semua pihak untuk ikut berpartisipasi dan bersedia menyisihkan sebagian rejeki THRnya sebagai bentuk dukungan atau suportnya demi suksesnya penyelenggaraan acara tersebut. Sumbangan dapat ditransfer melalui rekening FOKKA (Forum Komunikasi Kasabua Ade), Rek. Nomor: 1290010090138 Bank Mandiri.

Sekecil apapun sumbangan dan partisipasi Anda akan sangat bermanfaat dalam rangka mensukseskan Festival Rimpu. Segenab Panitia Festival Rimpu Bima-Dompu 2018, Mengucapkan Selamat Idul Fitri , 1 Syawal 1439 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. (AB)
#Rimpu #Festival #SeniBudaya
#Bima #Dompu #NTB
#SaveRimpu


KEK MANDALIKA MENYAPA DUNIA



Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Lombok NTB terus dibenahi, seperti pembangunan jaringan infrastruktur, penataan 5 (lima) pantai dengan total panjang 16 kilometer, Pembangunan toilet umum setara toilet hotel bintang lima, Sarana pengamanan, pengawasan, dan keselamatan di pantai. “Semua ditata dengan standar bintang lima dan keselamatan pantai tingkat dunia” jelas Direktur Utama PT Indonesia Tourism Development Corporation, Abdulbar M Mansoer.

Mandalika memiliki sejumlah keunggulan seperti luas kawasan Mandalika ialah 1.175 hektare (ha) dan 35 ha di antaranya digunakan untuk komersial, jika dibandingkan dengan kawasan Nusa Dua di Bali, luasnya hanya 350 ha, Jelas Mandalika lebih unggul, lanjut Abdulbar.

Fasilitas lain yang akan segera dibangun adalah dermaga khusus kapal pesiar mewah, taman tematis dan ruang terbuka hijau yang ditetapkan sebagai taman kawasan hutan seluas 120 ha. “Dengan dibangunnya Marina atau dermaga khusus tersebut, maka mandalika semakin jauh lebih unggul dengan Nusa Dua Bali” jelas Abdulbar.

Anggaran Rp250 miliar telah digunakan untuk mendukung infrastruktur, selanjutnya akan dibangun 26 ribu kamar di KEK Mandalika yang investasinya sebesar Rp4,2 triliun untuk infrastruktur jalan, lanskap, penerangan, dan lainnya, tidak termasuk pembangunan hotel. “Jika semuanya lancar, Target pembangunan akan selesai pada tahun 2021” Pungkasnya. (AB).

MEMAKNAI HIDUP DENGAN BERSYUKUR



Ketimpangan hidup sering disalah tafsirkan, seperti ; Ada yang sudah berkerja keras tetapi hasilnya kurang, ada yang kerjanya nyantai tapi hasilnya melimpah. Apa yang diharapkan sering tidak terwujud dalam kenyataan dan yang menjadi cita-cita, tidak terwujud sesuai dengan harapan. Ya Allah... ini tidak adil, keluhnya.

Ajaran Islam memberikan resep hidup yang sangat ampuh untuk menghadapi beragam ketimpangan hidup tersebut hanya dengan resep sederhana yaitu ‘Bersyukur’. Orang yang senantiasa bersyukur, tidak akan pernah takabur dengan kelebihan nikmat pemberian Allah SWT. Pun sebaliknya tidak pernah mengeluh ketika diterpa dengan segala kekurangan.

Ketika dia kaya atau miskin semuanya diterimanya dengan penuh syukur. Sebab, kalau tidak bersyukur, maka dia akan mudah menjadi manusia yang sombong, angkuh, dan ujub. Dengan bersyukur, akan menjaga dan membentengi diri dari keangkuhan, kesombongan, dan ketakaburan.

Jika tidak memiliki rasa bersyukur, maka ketika diuji dengan segala macam persoalan yang datang tiada henti-hentinya, maka yang dirasakan hanya kesal, kecewa, putus asa bahkan yang imannya rapuh, bisa-bisa bunuh diri. “Orang yang tidak bersyukur menerima nasibnya cenderung melukai diri sendiri yang membahayakan keselamatannya”.

Hidup itu sebenarnya sangat mudah, hanya saja kita yang membuatnya jadi susah, Kuncinya adalah bersyukurlah saat senang, saat lapang, saat kaya dan bersyukur pula pada saat kekurangan, kesulitan maupun cobaan lainnya. Sebab syukur itu menjadi benteng dalam menghadapi semua kondisi kehidupan. Semoga kita semua menjadi manusia yang pandai bersyukur atas kelebihan maupun kekurangan dari pemberian Allah SWT. Aamiin. (AB)

Dikutib dari: Ahmad Thib Raya - Dou Mbojo
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

FA AINA TADZHABUN?


Menarik untuk disimak sebuah pertanyaan Tuhan di dalam ayat Alquran, Fa Aina Tadzhabun? (Maka kalian mau ke mana?) (QS al-Takwir/81:26). Ayat itu tampil berdiri sendiri mengingatkan visi dan misi kehidupan kita, untuk apa kita lahir? Ke mana kita akan pergi? Apa tujuan hidup kita? Bekal apa yang harus disiapkan di dalam menjalani perjalanan hidup ini? Berapa lama kita akan hidup? Apa tanggung jawab di balik kehidupan ini? Terlalu banyak muatan makna pertanyaan Tuhan di dalam ayat pendek tersebut. Ayat tersebut menyentak kita untuk mempertanyakan dan menyadarkan kita di dalam menjalani sisa-sisa perjalanan hidup kita.

Jika ada pertanyaan tanpa jawaban di dalam Alquran, itu menunjukkan adanya jawaban penting yang harus ditanggapi. Kehidupan yang tersisa ini seharusnya kita jalani dengan visi dan tujuan yang jelas supaya kita tidak termasuk orang yang amat merugi di kemudian hari. Alangkah ruginya kalau kehidupan kita ini sama saja dengan kehidupan kita dengan masa lalu.

Ayat di atas seolah memberikan energi batin bagi kita untuk berubah (shifting). Bagaimana agar kualitas hidup kita hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari-hari masa depan kita lebih baik daripada hari ini. Hadis Nabi mengingatkan alangkah ruginya seseorang jika hidupnya hari ini sama saja dengan hari kemarin. Lebih rugi lagi jika hidupnya hari ini lebih buruk daripada hari kemarin. Tidak ada kata terlambat untuk mengevaluasi diri kita untuk merencanakan kualitas hidup lebih baik daripada hari kemarin, hari ini, dan hari-hari berikutnya.

Pertanyaan menarik itu bukan hanya penting dihayati secara individu, melainkan juga untuk keluarga, masyarakat, dan kita semua sebagai warga bangsa/negara karena ayat tersebut menggunakan lafaz jamak (tadzhabun). Jadi yang perlu mendapatkan direction kehidupan bukan hanya diri sendiri, melainkan juga keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Yang akan celaka bila tidak menjalani tata kelola kehidupan ini bukan hanya orang perorangan, melainkan juga anggota masyarakat dan bangsa atau negara.

Sejalan dengan ayat di atas, ada ayat lain mengingatkan, Likulli ummatin ajal, fa idza jaa ajaluhum la yasta’khiruna sa’atan wa la yastaqdimun (Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajal mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya (QS al-A’raf/7:34). Orang, keluarga, masyarakat, negara, rezim atau orde, yang tidak memiliki visi, misi, dan tujuan hidup yang jelas dikhawatirkan ajalnya akan tiba lebih awal. Khusus untuk ajal suatu masyarakat, Ibnu Khaldun pernah mengingatkan kepada kita terhadap empat generasi yang akan menentukan cepat atau lambatnya ajal masyarakat itu tiba, yaitu, pertama generasi perintis, kedua generasi pembangun, ketiga generasi penikmat, dan keempat generasi penghancur.

Setelah itu, muncul lagi generasi baru yang akan merintis, membangun, menikmati, dan selanjutnya kembali menghancurkan. Demikianlah seterusnya, sejarah selalu berulang. Alquran menayangkan beberapa contoh yang menunjukkan betapa riskannya ajal sebuah generasi. Terkadang individu yang memiliki perencanaan yang matang di dalam menjalani kehidupannya lebih panjang ajalnya daripada ajal masyarakatnya. Di antara generasi bangsa Indonesia banyak sekali yang pernah merasakan beberapa pergantian generasi (orde). Ada yang pernah menyaksikan tibanya ajal penjajahan Jepang, Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru. Terkadang umur individu kita lebih panjang daripada umur masyarakat atau rezim kita.

Sebaliknya, ada juga suatu komunitas lebih panjang usia kemasyarakatannya bila dibandingkan dengan usia individunya. Boleh jadi ada sebuah individu berkali-kali mati sebagai masyarakat atau rezim tetapi tetap tegar sebagai individu. Idealnya usia individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa/negara/rezim sama-sama awet dalam kehidupan yang ideal, sebagaimana ditegaskan di dalam cita-cita bangsa yang tertuang di dalam Preambul UUD 1945.

Dalam tahun atau bulan-bulan politik seperti tahun mendatang seharusnya kita semua wawas diri sambil memohon petunjuk Tuhan Yang Mahakuasa agar kita semua, baik sebagai individu, keluarga, masyarakat, maupun sebagai warga bangsa/negara, tetap berada di dalam lindungan Tuhan Yang Mahakuasa. Semoga kita semua tetap berada dalam suasana stabil, makmur, tenang, dan bahagia.

Penulis: Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta.

Foto: Ilustrasi Abunawar Bima
Sumber: MI.

MEMETIK HIKMAH DARI KISAH NABI MUSA AS


ALKISAH dalam Alquran Surah Al Ghafir mulai ayat 23, dikisahkan tentang perjuangan Nabi Musa AS melawan kezaliman seorang penguasa tertinggi atau raja di Mesir kala itu yang bernama Firaun. Kekuasaan dan kezaliman Firaun semakin tidak terkendali sampai-sampai mendapuk dirinya sebagai Tuhan. Karena itu, Nabi Musa diutus Allah untuk mengahiri segala kezaliman Firaun dan mengajak penduduk Mesir untuk melawan Firaun.

Dalam surah lain, dijelaskan bahwa sewaktu Musa dilahirkan, ibunya takut sekali, ia khawatir Musa akan dibunuh karena undang-undang yang dikeluarkan Firaun pada saat itu, bahwa setiap bayi yang lahir laki-laki harus dibunuh. Atas petunjuk Allah, Musa dihanyutkan dalam sebuah peti di sungai nil hingga ditemukan oleh istri Firaun, lalu Musa diangkat menjadi anaknya.

"Setelah dewasa, Nabi Musa mulai melawan Firaun dan 2 (dua) orang terdekat Firaun, yakni Haman dan Qarun. Haman merupakan politikus busuk, sedangkan Qarun ialah pebisnis rakus".

Nabi Musa mengajak penguasa agar bertindak lurus, politisi berbuat jujur, dan yang kaya raya menjadi pemilik harta yang adil, akan tetapi, semua ajakan Nabi Musa ditolak, bahkan, mereka menuduh Nabi Musa seorang penyihir dan pembohong, Padahal, Nabi Musa datang kepada mereka dengan membawa ayat-ayat Allah.

Pengikut Nabi Musa, kian hari kian bertambah banyak, hingga Firaun merasa khawatir dengan ajakan pembaruan oleh Nabi Musa yang akan mengganggu stabilitas kekuasaannya. Karena itu, Firaun menentang keras dan mengejar Nabi Musa dan pengikutnya hingga ketepi laut merah dan atas petunjuk dan mujijat Allah, Nabi Musa bisa melintasi laut merah, sementara Firaun dan semua pengikutnya tenggelam dan binasa didasar laut.

Pesan dari kisah tersebut adalah, setiap orang harus mawas diri terhadap kekuasaan yang diamanahkan, Jangan berlaku zalim atau berbuat sewenang-wenang, Keadilan harus ditegakkan dan Jangan pernah melupakan Kuasa Allah SWT, karena kekuasaan-Nya tak bisa ditandingi oleh siapapun. "Kelak semua yang diperbuat akan dipertanggung-jawabkan dan segala dosa akan mendapat pembalasan yang setimpal".(AB)


#SalamIbadah

HIKMAH DIBALIK MUSIBAH



MUSIBAH, bencana dan beragam cobaan, sesungguhnya adalah 'surat cinta dari Tuhan' karena Tuhan merindukan hamba-Nya, tetapi undangannya berupa kenikmatan dan segala macam kemewahan tidak pernah digubris, maka Tuhan mengubah surat undangan itu dalam bentuk musibah.

Jika orang ditimpa musibah, yang paling pertama sebagai tempat mengadu biasanya kepada Allah SWT, sebaliknya jika mendapat sebuah kemewahan, kemenangan, kenaikan pangkat dan jabatan, maka dengan rasa senang dan bangga akan mengabarkan berita itu kepada orang-orang dekat atau kelompoknya dengan suka ria bahkan pesta pora sampai ia lupa, yang seharusnya lebih diutamakan adalah memanjatkan puji syukur kepada yang Maha Pemberi Yakni Allah SWT.

Banyak contoh dalam kehidupan kita bahwa musibah sejatinya dijadikan sebagai hikmah untuk memacu agar lebih maju, kreatif, dan berhasil. Jangan pernah berhenti pada 1 (satu) jalan hanya karena tertutp oleh penghalang, sementara masih ada 1.000 (seribu) jalan lain yang terbuka lebar sebagai peluang.

Jangan pernah memusuhi musibah karena, semakin memusuhinya maka akan lebih terasa sakitnya. Jangan memusuhi penyakit karena penyakit itu akan lebih menyiksa dan mendera, Maka Nikmatilah segala penderitaan, niscaya rasa sakitnya akan berkurang bahkan menghilang.

Al Kisah, Nabi Ayyub didera penyakit hingga sekujur badannya dikerumuni belatung membuatnya dibuang di sebuah gua di pegunungan yang jauh dari perkampungan. Dia tersiksa sendirian, terasing dari dunia luar.

Nabi Ayyub tiba-tiba mengatakan kepada belatung; kalian dulu makhluk yang paling aku benci, di mana-mana saya mencari tabib untuk memusnahkanmu, tetapi kalian tetap betah di tubuhku. Sekarang kalian bersenang-senanglah karena ternyata kalian ialah sahabat setiaku. Satu-satunya yang tetap setia menemaniku di kegelapan gua ini. Ayyub tidak lagi merasa sakit dari gigitan belatung-belatung itu, malah Ia senang dan bahagia hidup di gua pengasingan itu.

Semoga kita semua bisa mengambil Hikmah dari Musibah yang menimpa, "Sesunnguhnya Musibah itu datang karena kita lalai mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT". (AB)

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA